Nasehat imam syafi’i tentang ilmu tulisan arab beserta artinya !

Nasehat imam syafi’i tentang ilmu tulisan arab beserta artinya !

Jawaban 1 :

من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته

“Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan ”

Dijawab Oleh :

Dr. Yohanes Nong Loar, M.Pd

Jawaban 2 :

من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته

“Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan ”

Dijawab Oleh :

Arif Kuswandi, S.Pd.I

Penjelasan :

Siapakah Imam Syafi’i? Lautan Ilmu dan Hikmah

Sebelum menyelami nasehat-nasehatnya, penting untuk mengenal sosok luar biasa ini. Imam Syafi’i lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 Hijriah. Sejak kecil, kecerdasan dan semangat belajarnya sudah terlihat menonjol. Beliau telah hafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun dan kitab Al-Muwatta’ karya Imam Malik pada usia 10 tahun.

Perjalanan intelektualnya membawanya berguru kepada ulama-ulama besar di masanya, termasuk Imam Malik di Madinah dan murid-murid Imam Abu Hanifah di Irak. Gabungan dari berbagai tradisi keilmuan inilah yang membentuk pemikirannya yang brilian dan komprehensif, menjadikannya seorang mujtahid mutlak yang diakui keilmuannya.

Pentingnya Perjuangan dalam Menuntut Ilmu

Imam Syafi’i memandang ilmu sebagai sesuatu yang sangat mulia, tetapi tidak bisa diraih dengan berpangku tangan. Baginya, ilmu memerlukan pengorbanan, kesungguhan, dan perjuangan yang tidak ringan. Pandangan ini tercermin dalam banyak syair dan nasehatnya.

Baca Juga:  Jelaskan sikap/pola hidup masyarakat desa dan kota !

Ilmu Tidak Mungkin Diraih dengan Santai

Salah satu prinsip yang selalu beliau tekankan adalah bahwa kenyamanan dan ilmu adalah dua hal yang tidak bisa berjalan bersamaan. Beliau mengajarkan bahwa seorang penuntut ilmu harus siap meninggalkan zona nyamannya untuk meraih pengetahuan yang hakiki.

Kebodohan Adalah Kegelapan, Ilmu Adalah Cahaya

Imam Syafi’i sering menganalogikan ilmu sebagai cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat dalam kegelapan kebodohan, tidak mampu membedakan mana yang benar dan salah, serta mana yang bermanfaat dan merugikan.

Adab Harus Didahulukan Sebelum Ilmu

Bagi Imam Syafi’i, adab (etika) memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada ilmu itu sendiri. Seseorang yang berilmu namun tidak memiliki adab, ilmunya tidak akan membawa keberkahan. Sebaliknya, adab akan memuliakan seseorang meskipun ilmunya belum seberapa.

Kumpulan Kata Mutiara Imam Syafi’i Bahasa Arab tentang Ilmu

Berikut adalah beberapa petuah paling terkenal dari sang Imam yang menjadi pedoman bagi para pencari ilmu. Kata mutiara Imam Syafi’i bahasa Arab ini tidak hanya indah secara lafal, tetapi juga sangat dalam maknanya.

Enam Syarat Meraih Ilmu

Ini adalah salah satu syairnya yang paling sering dikutip, merangkum syarat-syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap penuntut ilmu.

أخي لن تنال العلم إلا بستة
سأنبيك عن تفصيلها ببيان
ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة
وصحبة أستاذ وطول زمان

Artinya:
“Wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan ku beritahukan perinciannya dengan jelas:

  1. Kecerdasan (Dzakaa’in)
  2. Semangat (Hirshin)
  3. Kesungguhan (Ijtihadin)
  4. Bekal/Biaya (Bulghotin)
  5. Bimbingan Guru (Suhbatu Ustadzin)
  6. Waktu yang Lama (Thuuli Zamanin)”

Penjelasan dari enam syarat ini menunjukkan betapa komprehensif pandangan beliau. Ilmu membutuhkan modal intelektual (kecerdasan), motivasi internal (semangat), usaha keras (kesungguhan), sumber daya (bekal), bimbingan ahli (guru), dan proses yang tidak instan (waktu yang lama).

Baca Juga:  Kebersihan daerah lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab ?

Lima Keutamaan Merantau untuk Ilmu

Imam Syafi’i juga sangat menganjurkan untuk meninggalkan kampung halaman demi mencari ilmu. Menurutnya, berdiam diri di satu tempat akan mematikan potensi seseorang.

Teks Arab dan Terjemahan

سافر تجد عوضا عمن تفارقه
وانصب فإن لذيذ العيش في النصب
إني رأيت وقوف الماء يفسده
إن ساح طاب وإن لم يجر لم يطب
والأسد لولا فراق الغاب ما افترست
والسهم لولا فراق القوس لم يصب

Artinya:
“Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari apa yang kau tinggalkan. Berlelah-lelah lah, karena manisnya hidup terasa setelah berlelah-lelah.”
“Aku melihat air yang tergenang akan menjadi keruh. Jika ia mengalir, ia akan menjadi jernih, dan jika tidak, ia akan memburuk.”
“Singa, jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah, jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.”

Makna dan Penjelasan

Syair ini dengan indah menggambarkan filosofi di balik pentingnya merantau atau keluar dari zona nyaman. Beliau memberikan beberapa pelajaran penting:

  • Pengganti yang Lebih Baik: Dengan merantau, seseorang akan menemukan teman baru, pengalaman baru, dan ilmu baru yang mungkin lebih baik dari apa yang ditinggalkannya.
  • Kenikmatan Setelah Lelah: Kesenangan sejati baru akan terasa setelah melalui perjuangan dan kelelahan.
  • Ilmu Itu Dinamis: Seperti air, ilmu harus terus mengalir. Berdiam diri akan membuat ilmu menjadi tumpul dan tidak berkembang.
  • Keberhasilan Butuh Aksi: Seperti singa dan anak panah, potensi besar tidak akan terwujud tanpa keberanian untuk bergerak dan meninggalkan “sarang” atau “busur” kenyamanan.

Mengamalkan Nasehat Imam Syafi’i di Era Digital

Meskipun kata mutiara Imam Syafi’i bahasa Arab ini diucapkan berabad-abad yang lalu, relevansinya di era modern sangat terasa. Di tengah banjir informasi dan kemudahan akses belajar online, prinsip-prinsip beliau menjadi filter yang sangat penting.

Baca Juga:  Yang dimaksud furudhul muqaddarah adalah ?

Prinsip “kesungguhan” dan “waktu yang lama” mengingatkan kita bahwa tidak ada jalan pintas untuk menjadi ahli, sekalipun semua informasi ada di ujung jari. Sementara prinsip “bimbingan guru” menekankan pentingnya mencari mentor atau pembimbing yang ahli di bidangnya, tidak hanya belajar secara otodidak dari internet yang penuh distraksi.

Kesimpulan

Warisan Imam Syafi’i bukanlah sekadar kitab-kitab fikih yang tebal, tetapi juga untaian nasehat dan hikmah yang abadi. Kata mutiara Imam Syafi’i bahasa Arab tentang ilmu mengajarkan kita sebuah pelajaran fundamental: bahwa ilmu adalah mahkota yang mulia, namun untuk meraihnya dibutuhkan mahar berupa perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan adab yang tinggi. Dengan merenungi dan mengamalkan nasehat-nasehat beliau, perjalanan kita dalam menuntut ilmu akan menjadi lebih bermakna dan diberkahi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top