Buatlah rangkuman tentang Masa Kemerdekaan (1945–1950) yang berisikan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan !

Buatlah rangkuman tentang Masa Kemerdekaan (1945–1950) yang berisikan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan !

Jawaban 1 :

Kronologi | Kemerdekaan RI

Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Pasca Proklamasi

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia masih berjuang keras untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Oleh Arief Nurrachman

Senin, 17 Agustus 2020 11:34:10 WIB

Bagikan

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Drama kolosal Pertempuran Palagan Ambarawa memeriahkan peringatan Hari Juang Kartika di Lapangan Jenderal Soedirman, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (15/12/2016). Dalam kesempatan itu ditekankan kembali peran TNI dalam menjaga kedaulatan dan persatuan Indonesia.

Kurun waktu Agustus 1945-Desember 1947 menjadi masa-masa paling berat bagi para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pihak Belanda bersama sekutunya, dan Jepang, masih berupaya mengambil alih kekuasan. Pertempuran pun pecah di sejumlah daerah. Strategi gerilya dan diplomasi yang ditempuh berhasil membuat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

1945

17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.

18 Agustus 1945

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan Undang-Undang Dasar RI 1945 serta memilih Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.

2 September 1945

Pembentukan kabinet pertama yang terdiri atas 16 menteri, dan delapan gubernur untuk wilayah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.

8 September 1945

Tentara sekutu dan tentara Nederlands Indie Civil Administration (NICA) mendarat di Indonesia.

Dijawab Oleh :

Aryani, S.Pd

Jawaban 2 :

Kronologi | Kemerdekaan RI

Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Pasca Proklamasi

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia masih berjuang keras untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Oleh Arief Nurrachman

Senin, 17 Agustus 2020 11:34:10 WIB

Bagikan

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Drama kolosal Pertempuran Palagan Ambarawa memeriahkan peringatan Hari Juang Kartika di Lapangan Jenderal Soedirman, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (15/12/2016). Dalam kesempatan itu ditekankan kembali peran TNI dalam menjaga kedaulatan dan persatuan Indonesia.

Kurun waktu Agustus 1945-Desember 1947 menjadi masa-masa paling berat bagi para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pihak Belanda bersama sekutunya, dan Jepang, masih berupaya mengambil alih kekuasan. Pertempuran pun pecah di sejumlah daerah. Strategi gerilya dan diplomasi yang ditempuh berhasil membuat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

Baca Juga:  Apa yg dimaksud dengan kesadaran dan kesetiaan atas kesukuan​ ?

1945

17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.

18 Agustus 1945

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan Undang-Undang Dasar RI 1945 serta memilih Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.

2 September 1945

Pembentukan kabinet pertama yang terdiri atas 16 menteri, dan delapan gubernur untuk wilayah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.

8 September 1945

Tentara sekutu dan tentara Nederlands Indie Civil Administration (NICA) mendarat di Indonesia.

Dijawab Oleh :

Dra. Nilawati, M.Pd

Penjelasan :

Kondisi Awal Kemerdekaan: Euforia dan Ancaman Nyata

Berita proklamasi menyebar ke seluruh penjuru negeri, disambut dengan euforia dan semangat yang membara. Namun, kegembiraan ini tidak berlangsung lama. Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II menciptakan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan oleh Sekutu, khususnya Inggris, yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang.

Di balik misi tersebut, ternyata tentara Sekutu memboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yaitu pemerintahan sipil Hindia Belanda. Tujuan utama NICA adalah untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia. Kehadiran mereka sontak menyulut api perlawanan dari rakyat Indonesia yang tidak ingin kembali dijajah.

Dua Front Perjuangan: Perang dan Diplomasi

Menghadapi Belanda yang memiliki persenjataan lebih modern dan dukungan dari Sekutu, bangsa Indonesia melancarkan perjuangan di dua front secara bersamaan. Kedua front ini saling mendukung dan menjadi strategi utama selama masa kemerdekaan 1945 sampai 1950.

Baca Juga:  Tahapan mekanisme kelulusan yang dilakukan oleh satuan pendidikan adalah ?

Perjuangan Fisik: Pertempuran Heroik di Berbagai Daerah

Perjuangan fisik atau perang gerilya menjadi pilihan utama rakyat untuk melawan kedatangan kembali tentara Belanda. Meskipun dengan persenjataan seadanya, semangat “merdeka atau mati” membuat perlawanan ini begitu gigih. Beberapa pertempuran ikonik yang terjadi antara lain:

  • Pertempuran Surabaya (Oktober-November 1945): Pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Pidato Bung Tomo yang membakar semangat arek-arek Suroboyo menjadi simbol perlawanan tanpa kompromi.
  • Pertempuran Ambarawa (November-Desember 1945): Di bawah komando Kolonel Soedirman, pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dan NICA, menunjukkan bahwa kekuatan militer Indonesia tidak bisa diremehkan.
  • Bandung Lautan Api (Maret 1946): Sebuah strategi bumi hangus yang dilakukan para pejuang di Bandung untuk mencegah Sekutu dan NICA menggunakan kota tersebut sebagai markas strategis.

Perjuangan Diplomasi: Menggalang Dukungan Internasional

Di samping pertempuran fisik, para pemimpin bangsa juga aktif berjuang di meja perundingan. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dari dunia internasional dan menekan Belanda secara politik. Diplomasi menjadi cara untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara berdaulat yang mampu bernegosiasi.

Perjuangan ini tidak mudah, karena posisi runding Indonesia pada awalnya sangat lemah. Namun, kegigihan para diplomat seperti Sutan Sjahrir, Agus Salim, dan Mohammad Roem perlahan-lahan membuahkan hasil, membawa isu kemerdekaan Indonesia ke forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Agresi Militer Belanda: Ujian Terberat Kedaulatan

Karena frustrasi dengan perlawanan rakyat dan lambatnya perundingan, Belanda melancarkan dua serangan militer besar-besaran yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda.

  • Agresi Militer Belanda I (Juli 1947): Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati dan menyerang wilayah-wilayah strategis di Jawa dan Sumatra.
  • Agresi Militer Belanda II (Desember 1948): Belanda kembali mengkhianati perjanjian (Perjanjian Renville) dengan menyerang ibu kota sementara di Yogyakarta, menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta.
Baca Juga:  Musyawarah berdasarkan kebersamaan,kekeluargaan dan ?

Meskipun secara militer Indonesia terdesak, agresi ini justru menjadi bumerang bagi Belanda. Dunia internasional mengecam keras tindakan tersebut, dan simpati terhadap perjuangan Indonesia semakin menguat.

Peristiwa-Peristiwa Penting dalam Masa Kemerdekaan 1945 sampai 1950

Periode krusial ini diwarnai oleh serangkaian perundingan dan peristiwa yang menentukan arah sejarah bangsa.

Jalur Perundingan: Upaya Damai yang Penuh Lika-Liku

Beberapa perundingan penting menjadi tonggak sejarah diplomasi Indonesia, meskipun seringkali hasilnya merugikan.

Perundingan Linggarjati (1947)

Perundingan ini menghasilkan kesepakatan di mana Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia yang meliputi Jawa, Sumatra, dan Madura. Namun, perjanjian ini dilanggar oleh Belanda dengan melancarkan Agresi Militer I.

Perundingan Renville (1948)

Diadakan di atas kapal perang Amerika Serikat USS Renville, perundingan ini menghasilkan kesepakatan yang sangat merugikan Indonesia. Wilayah kedaulatan RI menjadi semakin sempit karena adanya Garis Van Mook. Perjanjian ini pun kembali dikhianati Belanda melalui Agresi Militer II.

Konferensi Meja Bundar (KMB): Langkah Menuju Pengakuan Penuh

Setelah Agresi Militer II mendapat kecaman internasional, PBB mendesak Belanda untuk kembali berunding. Puncaknya adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diadakan di Den Haag, Belanda, dari Agustus hingga November 1949.

Hasil dari KMB adalah kesepakatan bahwa Belanda akan mengakui kedaulatan Indonesia dalam bentuk negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS). Meskipun ada beberapa poin yang memberatkan, seperti masalah Irian Barat dan utang Hindia Belanda, KMB menjadi langkah final menuju pengakuan kedaulatan.

Akhir Perjuangan: Pengakuan Kedaulatan RIS

Pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Momen ini menandai berakhirnya konfrontasi fisik dan diplomatik yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun. Era perjuangan mempertahankan kemerdekaan pun mencapai puncaknya.

Bentuk negara serikat (RIS) tidak bertahan lama. Melalui berbagai proses politik, pada 17 Agustus 1950, Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan demikian, berakhirlah babak perjuangan heroik masa kemerdekaan 1945 sampai 1950.

Kesimpulan

Masa kemerdekaan 1945 sampai 1950 adalah periode yang penuh gejolak, pengorbanan, dan heroisme. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tahun 1945 bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang harus direbut dan dipertahankan dengan segenap jiwa raga. Melalui kombinasi strategi perjuangan fisik di medan perang dan kegigihan di meja diplomasi, bangsa Indonesia berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa kedaulatannya tidak dapat ditawar lagi. Lima tahun pertama ini menjadi fondasi kokoh yang membentuk karakter bangsa dan menegaskan eksistensi Republik Indonesia di panggung dunia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top