buat minimal satu bentuk instrumen evaluasi untuk mengukur masing-masing domain tersebut?​

buat minimal satu bentuk instrumen evaluasi untuk mengukur masing-masing domain tersebut?​

Jawaban 1 :

apabila suatu tujuan dari proses pembelajaran telah tercapai maka telah dapat memenuhi aspek atau ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dalam belajar. Instrument pengukur aspek tersebut antara lain kognitif berupa tes hasil belajar, afektif berupa angket pencapaian sikap, dan psikomotorik berupa angket praktikum.

Contoh angket masing-masing domain atau ranah pencapaian pembelajaran:

Kognitif -> soal tes ulangan

Afektif -> angket pencapaian motivasi

Psokomotik -> laporan praktikum, membuat karya ilmiah dll.

Dijawab Oleh :

Aryani, S.Pd

Jawaban 2 :

apabila suatu tujuan dari proses pembelajaran telah tercapai maka telah dapat memenuhi aspek atau ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dalam belajar. Instrument pengukur aspek tersebut antara lain kognitif berupa tes hasil belajar, afektif berupa angket pencapaian sikap, dan psikomotorik berupa angket praktikum.

Contoh angket masing-masing domain atau ranah pencapaian pembelajaran:

Kognitif -> soal tes ulangan

Afektif -> angket pencapaian motivasi

Psokomotik -> laporan praktikum, membuat karya ilmiah dll.

Dijawab Oleh :

Arif Kuswandi, S.Pd.I

Penjelasan :

Memahami Tiga Pilar Pembelajaran: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik

Untuk bisa membuat instrumen evaluasi yang relevan, langkah pertama adalah memahami secara mendalam pengertian kognitif afektif dan psikomotorik. Taksonomi ini pertama kali diperkenalkan oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956, yang bertujuan untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan ke dalam tingkatan yang lebih spesifik.

Baca Juga:  RJ 45 yaitu port yang digunakan untuk menghubungkan kabel adalah​ ?

Ketiga domain ini—kognitif, afektif, dan psikomotorik—bekerja secara sinergis dalam proses pembelajaran. Mereka adalah tiga pilar yang menopang bangunan kompetensi seseorang secara utuh. Mengabaikan salah satunya sama seperti membangun sebuah kursi dengan dua kaki; hasilnya tidak akan seimbang dan fungsional.

Mengenal Lebih Dekat Setiap Domain Pembelajaran

Setiap domain memiliki fokus dan karakteristiknya sendiri. Membedah pengertian kognitif afektif dan psikomotorik akan memberikan kita panduan jelas dalam menentukan cara terbaik untuk mengukurnya.

Domain Kognitif: Ranah Pengetahuan dan Intelektual

Domain kognitif adalah ranah yang paling sering dievaluasi dalam sistem pendidikan formal. Domain ini berkaitan dengan kemampuan berpikir, pengetahuan, pemahaman, dan proses intelektual lainnya. Ini mencakup segala sesuatu mulai dari mengingat informasi dasar hingga menciptakan sesuatu yang baru berdasarkan analisis mendalam.

Tingkatan dalam domain kognitif (menurut taksonomi Bloom yang direvisi) meliputi:

  • Mengingat (C1): Kemampuan untuk mengingat kembali informasi.
  • Memahami (C2): Kemampuan untuk menjelaskan ide atau konsep.
  • Menerapkan (C3): Kemampuan menggunakan informasi dalam situasi baru.
  • Menganalisis (C4): Kemampuan menguraikan informasi menjadi bagian-bagian untuk memahami strukturnya.
  • Mengevaluasi (C5): Kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap informasi atau ide.
  • Mencipta (C6): Kemampuan untuk menghasilkan ide atau produk baru.

Domain Afektif: Ranah Sikap dan Nilai

Domain afektif berkaitan dengan aspek emosional, seperti perasaan, nilai, sikap, minat, dan apresiasi. Ranah ini seringkali lebih sulit diukur secara kuantitatif karena sifatnya yang abstrak dan internal. Namun, pengukurannya sangat penting untuk membentuk karakter dan kecerdasan emosional.

Domain ini mengukur bagaimana sikap seseorang terbentuk dan berubah, mulai dari sekadar sadar akan suatu fenomena hingga menginternalisasi nilai tersebut menjadi bagian dari kepribadiannya.

Domain Psikomotorik: Ranah Keterampilan Fisik

Domain psikomotorik mencakup keterampilan fisik, gerakan, dan koordinasi antara otak dan otot. Ini adalah ranah “tindakan” atau learning by doing. Keterampilan ini terlihat dalam aktivitas seperti menulis, berolahraga, memainkan alat musik, atau mengoperasikan mesin.

Baca Juga:  Singkat, padat, dan jelas merupakan syarat merumuskan ?

Evaluasi dalam domain ini berfokus pada kecepatan, ketepatan, prosedur, dan teknik dalam melakukan suatu tugas fisik. Kualitas hasil akhir (produk) dan proses melakukannya menjadi tolok ukur utama.

Instrumen Evaluasi untuk Setiap Domain: Dari Teori ke Praktik

Setelah memahami pengertian kognitif afektif dan psikomotorik, pertanyaan selanjutnya adalah “bagaimana cara mengukurnya?”. Berikut adalah minimal satu contoh bentuk instrumen evaluasi untuk setiap domain.

Mengukur Domain Kognitif

Domain kognitif paling mudah diukur dengan tes tertulis. Namun, jenis tes harus disesuaikan dengan tingkatan kemampuan yang ingin diukur.

Bentuk Instrumen: Soal Uraian (Esai) Terstruktur

Soal uraian sangat efektif untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat tinggi seperti menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). Soal ini menuntut peserta didik untuk mengorganisasi gagasan dan menyajikannya dalam argumen yang logis.

  • Contoh: (Untuk pelajaran Sejarah) “Bandingkan dua penyebab utama terjadinya Perang Dunia I dari perspektif ekonomi dan politik. Berikan evaluasi Anda mengenai faktor manakah yang memiliki dampak lebih signifikan terhadap pecahnya perang.”
  • Cara Penilaian: Menggunakan rubrik penilaian yang jelas dengan kriteria seperti kedalaman analisis, ketepatan fakta, struktur argumen, dan kesimpulan.

Mengukur Domain Afektif

Mengukur sikap dan nilai memerlukan instrumen yang dapat menangkap kecenderungan internal seseorang. Tes objektif jarang bisa melakukannya.

Bentuk Instrumen: Skala Sikap (Skala Likert)

Skala Likert adalah instrumen yang meminta responden untuk menyatakan tingkat persetujuan mereka terhadap serangkaian pernyataan. Ini efektif untuk mengukur sikap, minat, atau nilai terhadap suatu objek atau isu.

  • Contoh: (Untuk mengukur sikap terhadap kerja kelompok)
    • Petunjuk: Berilah tanda centang (✓) pada kolom yang paling sesuai dengan perasaan Anda. (SS: Sangat Setuju, S: Setuju, N: Netral, TS: Tidak Setuju, STS: Sangat Tidak Setuju)
    • Pernyataan: “Saya belajar lebih banyak ketika bekerja dalam sebuah kelompok.”
    • Pilihan: [SS] [S] [N] [TS] [STS]
  • Cara Penilaian: Setiap respons diberi skor (misal: SS=5, S=4, dst.). Total skor dari semua pernyataan akan menunjukkan kecenderungan sikap responden secara keseluruhan.
Baca Juga:  Apa yang dimaksud dengan sistem operasi jaringan ?

Mengukur Domain Psikomotorik

Keterampilan fisik paling baik diukur melalui pengamatan langsung saat tugas dilakukan.

Bentuk Instrumen: Tes Unjuk Kerja dengan Lembar Observasi/Rubrik

Tes unjuk kerja (performance test) meminta peserta didik untuk mendemonstrasikan suatu keterampilan secara langsung. Kualitas performa dinilai menggunakan lembar observasi atau rubrik yang berisi kriteria-kriteria spesifik.

  • Contoh: (Untuk pelajaran Biologi, praktik menggunakan mikroskop)
    • Tugas: “Siapkan preparat basah dari sayatan daun dan amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x. Tunjuk dan jelaskan bagian stomata!”
  • Cara Penilaian: Menggunakan rubrik unjuk kerja dengan kriteria:
    1. Persiapan Alat & Bahan: (Skor 1-4: Tidak lengkap hingga sangat lengkap dan rapi)
    2. Prosedur Penggunaan Mikroskop: (Skor 1-4: Tidak sesuai prosedur hingga sangat sistematis dan benar)
    3. Ketepatan Menemukan Objek: (Skor 1-4: Tidak berhasil hingga berhasil dengan cepat)
    4. Kemampuan Menjelaskan: (Skor 1-4: Tidak mampu hingga sangat jelas dan akurat)

Pentingnya Evaluasi Holistik

Menggunakan instrumen yang tepat untuk setiap domain memastikan bahwa kita mendapatkan gambaran yang lengkap tentang kompetensi seseorang. Bayangkan seorang calon pilot yang hanya diuji secara kognitif (tes teori penerbangan) tanpa pernah diuji keterampilan psikomotoriknya (simulasi terbang). Tentu sangat berbahaya.

Dengan menggabungkan evaluasi dari ketiga domain, pendidik dan pelatih dapat merancang program pembelajaran yang lebih seimbang. Ini tidak hanya menciptakan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sikap yang baik dan keterampilan yang mumpuni.

Kesimpulan

Memahami secara mendalam pengertian kognitif afektif dan psikomotorik adalah fondasi utama dalam merancang sistem evaluasi yang efektif dan adil. Setiap domain merepresentasikan aspek unik dari kemampuan manusia yang tidak dapat diukur dengan satu jenis instrumen saja. Domain kognitif diukur dengan tes pengetahuan, domain afektif dengan skala sikap atau observasi, dan domain psikomotorik melalui tes unjuk kerja.

Dengan merancang dan menerapkan setidaknya satu bentuk instrumen evaluasi yang spesifik untuk masing-masing domain, kita bergerak menuju penilaian yang lebih holistik. Tujuannya bukan lagi sekadar memberi label “pintar” atau “kurang”, melainkan untuk membina individu yang seimbang, kompeten, dan berkarakter secara menyeluruh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top