Bagaimana cara membaca ta’awudz dan basmalah pada surah at taubah ?

Bagaimana cara membaca ta’awudz dan basmalah pada surah at taubah ?

Jawaban 1 :

taawudz diwaqofkan dan basmalah disambung dengan surat

Dijawab Oleh :

Dr. Yohanes Nong Loar, M.Pd

Jawaban 2 :

taawudz diwaqofkan dan basmalah disambung dengan surat

Dijawab Oleh :

Arif Kuswandi, S.Pd.I

Penjelasan :

Keunikan Surah At-Taubah: Satu-Satunya Surah Tanpa Basmalah

Surah At-Taubah (Surah ke-9) memiliki sebuah ciri khas yang tidak dimiliki oleh surah lain dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah satu-satunya surah yang pada bagian awalnya tidak tercantum lafaz basmalah. Jika kita membuka mushaf Al-Qur’an, kita akan langsung menemukan ayat pertama setelah nama surah, tanpa didahului oleh kalimat “Bismillahirrahmanirrahim”.

Ketiadaan basmalah di awal Surah At-Taubah ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan ketetapan yang telah disepakati oleh para ulama (ijma’) berdasarkan riwayat dan petunjuk dari para sahabat Nabi Muhammad SAW. Keunikan ini tentu memiliki hikmah dan alasan yang mendalam, yang berkaitan erat dengan kandungan dan konteks turunnya surah tersebut.

Alasan di Balik Tidak Adanya Basmalah di Awal Surah At-Taubah

Para ulama tafsir dan ahli qira’at telah menjelaskan beberapa alasan utama mengapa Surah At-Taubah tidak diawali dengan basmalah. Pemahaman terhadap alasan ini membantu kita mengerti mengapa perlakuan membacanya pun menjadi berbeda.

Baca Juga:  Hadis yang berbunyi " al-insanu mahallul khata wa an-nisyan" mengandung makna ?

Kandungan Ayat yang Keras dan Tegas

Alasan yang paling utama dan masyhur adalah karena kandungan awal Surah At-Taubah. Surah ini dimulai dengan ayat-ayat yang berisi pernyataan pemutusan perjanjian dan pengumuman perang (baraa’ah) terhadap kaum musyrikin yang telah melanggar perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Lafaz basmalah mengandung makna kasih sayang, rahmat, dan keamanan dari Allah SWT. Sementara itu, ayat-ayat awal Surah At-Taubah berisi ketegasan, ancaman, dan pernyataan perang. Para ulama berpendapat bahwa menyandingkan lafaz rahmat (basmalah) dengan ayat-ayat tentang perang dan azab adalah hal yang tidak serasi secara makna.

Mengikuti Petunjuk dari Sahabat Nabi

Berdasarkan riwayat dari Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, ketika proses kodifikasi (pengumpulan) Al-Qur’an, para sahabat tidak menuliskan basmalah di awal Surah At-Taubah. Hal ini karena mereka mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan tidak menemukan petunjuk yang jelas bahwa basmalah harus diletakkan di sana.

Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa karena kemiripan tema antara Surah Al-Anfal dan Surah At-Taubah, sebagian sahabat sempat menganggap keduanya adalah satu surah. Untuk kehati-hatian, mereka tidak menuliskan basmalah di antara keduanya untuk memisahkan, sesuai dengan apa yang mereka terima dari Nabi.

Wahyu yang Turun Tanpa Basmalah

Beberapa ulama, seperti Imam As-Suyuthi, juga menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa basmalah adalah tanda keamanan (aman), sedangkan Surah At-Taubah (juga disebut Baraa’ah) diturunkan “dengan pedang” (tanda perang), sehingga tidak ada keamanan di dalamnya bagi kaum musyrikin pelanggar janji. Ini menguatkan pandangan bahwa Malaikat Jibril menurunkan surah ini kepada Nabi Muhammad SAW tanpa disertai lafaz basmalah.

Panduan Membaca Ta’awudz Surat At-Taubah dan Hukumnya

Setelah memahami alasannya, pertanyaan utamanya adalah bagaimana cara membacanya dengan benar? Aturan ini dibagi menjadi beberapa kondisi, terutama saat memulai dari awal surah atau saat menyambung dari surah sebelumnya.

Baca Juga:  Sebuah alat yang mengubah sinyal analog menjadi digital menjadi analog adalah ?

Memulai Bacaan dari Awal Surah At-Taubah

Jika Anda hendak memulai tilawah Al-Qur’an langsung dari ayat pertama Surah At-Taubah, maka aturannya adalah sebagai berikut:

  1. Wajib membaca Ta’awudz: Anda harus memulai dengan lafaz “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).
  2. Dilarang membaca Basmalah: Setelah membaca ta’awudz, Anda langsung membaca ayat pertama Surah At-Taubah tanpa melafalkan “Bismillahirrahmanirrahim”.

Jadi, cara membaca ta awudz surat at taubah saat memulai dari ayat pertama adalah dengan melafalkan ta’awudz saja, kemudian langsung masuk ke ayat:

“A’udzu billahi minasy syaithanir rajim. Baraa’atum minallahi wa rasulihi…”

Menyambung Bacaan dari Akhir Surah Al-Anfal

Bagi mereka yang membaca Al-Qur’an secara berurutan (misalnya saat khataman), akan ada kondisi di mana mereka menyelesaikan Surah Al-Anfal (surah ke-8) dan akan berpindah ke Surah At-Taubah. Dalam ilmu tajwid, ada tiga cara (wajh) yang dibenarkan untuk menyambung kedua surah ini.

1. Waqaf (Berhenti)

Ini adalah cara yang paling utama dan paling dianjurkan. Caranya adalah dengan berhenti total di akhir ayat terakhir Surah Al-Anfal, mengambil napas, kemudian memulai bacaan Surah At-Taubah dengan membaca ta’awudz saja (tanpa basmalah).

  • Contoh: Baca “…Innallaha bikulli syai’in ‘aliim.” (berhenti, ambil napas). Kemudian, “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim. Baraa’atum minallahi…”

2. Saktah (Berhenti Sejenak Tanpa Bernapas)

Saktah berarti berhenti sejenak (sekitar 2 harakat) tanpa mengambil napas baru, lalu melanjutkan bacaan. Jika menggunakan cara ini, Anda tidak perlu membaca ta’awudz atau basmalah.

  • Contoh: Baca “…Innallaha bikulli syai’in ‘aliim.” (berhenti sejenak tanpa napas), lalu langsung sambung “Baraa’atum minallahi…”

3. Wasl (Menyambung Langsung)

Wasl berarti menyambungkan langsung akhir ayat Surah Al-Anfal dengan awal ayat Surah At-Taubah dalam satu tarikan napas, tanpa berhenti sama sekali. Sama seperti saktah, pada cara ini Anda tidak membaca ta’awudz maupun basmalah.

  • Contoh: Baca “…Innallaha bikulli syai’in ‘aliimun-baraa’atum minallahi…” (huruf nun tanwin pada ‘aliimun’ dibaca dengan hukum iqlab karena bertemu huruf ba’).
Baca Juga:  "Kebersihan itu sebagian dari iman.” (H.R. Muslim), Hadis tersebut menegaskan tentang ?

Bagaimana Jika Membaca dari Tengah Surah At-Taubah?

Bagaimana jika kita tidak memulai dari ayat pertama, melainkan dari pertengahan Surah At-Taubah, misalnya dari ayat 40 atau ayat 103? Di sini, terdapat sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama, namun mayoritas memberikan kelonggaran.

  • Pendapat Mayoritas (Jumhur Ulama): Mayoritas ulama memperbolehkan, bahkan sebagian menganjurkan, untuk membaca basmalah jika memulai dari pertengahan surah. Alasannya, larangan membaca basmalah hanya berlaku khusus di awal surah. Ketika membaca dari tengah, ayat yang dibaca mungkin sudah tidak lagi berbicara tentang perang, melainkan tentang rahmat, ampunan, atau hukum lainnya. Membaca basmalah di sini berfungsi sebagai tabarruk (mencari berkah) untuk memulai bacaan. Tentu saja, ta’awudz tetap wajib dibaca sebelumnya.
  • Pendapat Minoritas: Sebagian kecil ulama berpendapat lebih baik tetap tidak membaca basmalah meskipun dari tengah surah, untuk menjaga konsistensi dengan charakter surah tersebut secara keseluruhan. Namun, pendapat pertama lebih kuat dan lebih banyak diamalkan.

Jadi, praktik yang paling umum dan dianjurkan adalah membaca ta’awudz lalu basmalah jika memulai dari tengah Surah At-Taubah.

Kesimpulan

Memahami cara membaca ta awudz surat at taubah adalah bagian dari adab dan ilmu dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kaidah ini menunjukkan betapa detail dan terjaganya kitab suci umat Islam hingga ke tata cara membacanya.

Secara ringkas, berikut adalah poin-poin utamanya:

  • Awal Surah At-Taubah: Wajib membaca Ta’awudz saja, tanpa Basmalah.
  • Menyambung dari Surah Al-Anfal: Boleh dengan cara Waqaf (berhenti, ambil napas, lalu baca ta’awudz), Saktah (berhenti sejenak tanpa napas), atau Wasl (menyambung langsung).
  • Tengah Surah At-Taubah: Wajib membaca Ta’awudz, dan mayoritas ulama memperbolehkan membaca Basmalah setelahnya.

Dengan mempraktikkan kaidah ini, semoga bacaan Al-Qur’an kita menjadi lebih sempurna, lebih bermakna, dan diterima di sisi Allah SWT.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top