Ala hadiniyah wa kulli niatin sholehah wa ila hadrotin nabi shalallahu alaihi wasallam artinya ?
Jawaban 1 :
Arti dari Ala hadiniyah wa kulli niatin sholehah wa ila hadrotin nabi shalallahu alaihi wasallam “Atas niat ini & setiap niat yg baik (mudah-mudahan) diberkahi dengan bersholawat kepada nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam”. Simak penjelasannya pada bagian pembahasan.
Dijawab Oleh :
Aryani, S.Pd
Jawaban 2 :
Arti dari Ala hadiniyah wa kulli niatin sholehah wa ila hadrotin nabi shalallahu alaihi wasallam “Atas niat ini & setiap niat yg baik (mudah-mudahan) diberkahi dengan bersholawat kepada nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam”. Simak penjelasannya pada bagian pembahasan.
Dijawab Oleh :
Arif Kuswandi, S.Pd.I
Penjelasan :
Membedah Makna Kalimat Pembuka Doa
Kalimat ini sejatinya terdiri dari beberapa frasa yang saling melengkapi. Untuk memahaminya secara utuh, kita perlu menguraikan setiap bagiannya. Setiap kata memiliki bobot makna yang mendalam dan menjadi fondasi dari niat yang dipanjatkan.
Kalimat ini secara esensial adalah sebuah pernyataan niat (intention) yang diungkapkan secara lisan. Ini adalah cara untuk memfokuskan hati dan pikiran pada tujuan mulia sebelum memulai amalan, dalam hal ini adalah membaca surat Al-Fatihah yang pahalanya akan dihadiahkan.
Mengurai Arti Per Frasa
Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, mari kita pecah kalimat tersebut menjadi beberapa bagian utama. Setiap frasa membawa pesan spesifik yang membentuk satu kesatuan niat yang sempurna.
Makna “Ala Hadiniyah wa Kulli Niatin Sholehah”
Bagian pertama dari kalimat ini adalah “Ala hadiniyah wa kulli niatin sholihah”. Mari kita artikan kata per kata:
- ‘Alaa (عَلَى): Berarti “atas”.
- Hadzihin-niyyah (هَذِهِ النِّيَّةِ): Berarti “niat ini”.
- Wa (وَ): Berarti “dan”.
- Kulli (كُلِّ): Berarti “setiap” atau “semua”.
- Niyyatin Sholihah (نِيَّةٍ صَالِحَةٍ): Berarti “niat yang baik/saleh”.
Jadi, jika digabungkan, “Ala hadiniyah wa kulli niatin sholihah” memiliki arti “Atas niat ini dan atas setiap niat yang baik”. Frasa ini menegaskan bahwa doa yang akan dipanjatkan didasari oleh niat yang spesifik saat itu (misalnya, mendoakan almarhum) sekaligus mencakup semua niat baik lainnya yang mungkin ada di dalam hati.
Makna “Wa Ila Hadrotin Nabi…”
Bagian selanjutnya adalah “Wa ila hadrotin nabi shalallahu alaihi wasallam”.
- Wa (وَ): Berarti “dan”.
- Ilaa Hadroti (اِلَى حَضْرَةِ): Berarti “kepada kehadirat” atau “ditujukan kepada yang terhormat”. Kata “hadrah” digunakan sebagai bentuk penghormatan yang tinggi.
- An-Nabi (النَّبِيِّ): Berarti “Sang Nabi”.
- Shalallahu ‘alaihi wasallam (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ): Adalah kalimat shalawat yang berarti “semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepadanya”.
Maka, frasa ini berarti “Dan (pahala ini) ditujukan kepada kehadirat Nabi Muhammad SAW”. Ini adalah bentuk tawassul atau pengiriman hadiah pahala, di mana amalan baik (membaca Al-Fatihah) diawali dengan menghadiahkannya kepada sosok yang paling mulia, yaitu Baginda Rasulullah SAW.
Arti Lengkap dan Kesatuan Makna
Ketika seluruh kalimat digabungkan, “Ala hadiniyah wa kulli niatin sholehah wa ila hadrotin nabi shalallahu alaihi wasallam…” secara harfiah berarti “Atas niat ini dan atas setiap niat yang baik, dan (pahala Al-Fatihah ini kami haturkan) kepada kehadirat Nabi Muhammad SAW…”.
Ini adalah sebuah pernyataan niat yang komprehensif. Pembaca doa menyatakan bahwa amalannya dilakukan dengan niat-niat yang lurus dan baik, dan pahala dari amalan tersebut secara khusus dihadiahkan pertama kali kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk cinta, penghormatan, dan adab dalam berdoa.
Tulisan Arab Ala Hadiniyah Wa Kulli Niatin Sholihah Bisirril Fatihah
Mengetahui cara penulisan yang benar dalam aksara Arab adalah hal yang penting untuk menghindari kesalahan pelafalan dan makna. Banyak yang mencari tulisan arab ala hadiniyah wa kulli niatin sholihah bisirril fatihah untuk memastikan bacaan mereka sesuai dengan kaidah yang semestinya.
Penulisan Arab, Latin, dan Terjemahannya
Berikut adalah penulisan yang lengkap dan sering digunakan dalam majelis-majelis di Indonesia, beserta transliterasi Latin dan artinya.
- Tulisan Arab:
عَلَى هَذِهِ النِّيَّةِ وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ، وَإِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِسِرِّ الْفَاتِحَةِ
- Transliterasi Latin:
“Alaa haadzihin-niyyati wa ‘alaa kulli niyyatin shoolihah, wa ilaa hadrotin-nabiyyi Muhammadin shollallohu ‘alaihi wa sallam, bisirril-faatihah.”
- Terjemahan:
“Atas niat ini dan atas setiap niat yang baik, dan kepada kehadirat Nabi Muhammad SAW, dengan rahasia (keberkahan) surat Al-Fatihah.”
Memahami Frasa Penutup “Bisirril Fatihah”
Kalimat ini sering diakhiri dengan “Bisirril Fatihah”.
- Bi (بِ): Berarti “dengan”.
- Sirri (سِرِّ): Berarti “rahasia”, “keistimewaan”, atau “keberkahan”.
- Al-Fatihah (الْفَاتِحَةِ): Merujuk pada surat Al-Fatihah.
Frasa “Bisirril Fatihah” berarti “Dengan rahasia/keutamaan/keberkahan surat Al-Fatihah”. Ini adalah sebuah permohonan agar niat dan doa yang dipanjatkan dapat terkabul melalui keberkahan dan keagungan yang terkandung di dalam surat Al-Fatihah.
Keagungan Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Kitab (Induk Al-Qur’an) karena mencakup seluruh pokok ajaran Al-Qur’an. Ia adalah doa, pujian, dan pernyataan tauhid yang paling agung. Menggunakan Al-Fatihah sebagai wasilah doa diyakini memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa.
Landasan Tawassul kepada Nabi Muhammad SAW
Menghadiahkan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW adalah bentuk tawassul yang dibenarkan. Ini bukan berarti menyembah Nabi, melainkan memuliakannya sebagai kekasih Allah. Dengan memuliakan Nabi, seorang hamba berharap doanya lebih didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT, sebagai wujud adab dan kecintaan kepada Rasul-Nya.
Variasi dan Penggunaan dalam Konteks Luas
Kalimat pembuka ini sering kali tidak berhenti hanya pada Nabi Muhammad SAW. Dalam praktiknya, terutama saat tahlilan, kalimat ini diperpanjang untuk mengirimkan Fatihah kepada sosok-sosok mulia lainnya secara berurutan.
Urutan yang umum adalah sebagai berikut:
- Kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.
- Kepada para Nabi dan Rasul lainnya.
- Kepada para wali, ulama, syuhada, dan orang-orang saleh.
- Kepada para guru (masyayikh) dan orang tua.
- Kepada arwah kaum muslimin dan muslimat secara umum.
- Secara khusus kepada arwah yang sedang didoakan (khususon ila ruhi…).
Setiap tingkatan ini menunjukkan adab dan penghormatan dalam berdoa, memulai dari yang paling mulia hingga kepada yang dituju secara spesifik.
Kesimpulan
Kalimat “Ala hadiniyah wa kulli niatin sholehah wa ila hadrotin nabi shalallahu alaihi wasallam” adalah sebuah deklarasi niat yang agung. Ia bermakna “Atas niat ini dan setiap niat yang baik, (pahala Al-Fatihah) dihadiahkan kepada kehadirat Nabi Muhammad SAW”. Kalimat ini menjadi fondasi spiritual sebelum melantunkan surat Al-Fatihah untuk berbagai hajat.
Dengan memahami arti serta tulisan arab ala hadiniyah wa kulli niatin sholihah bisirril fatihah yang benar, kita tidak lagi sekadar mengucapkannya sebagai rutinitas. Lebih dari itu, kita dapat meresapi setiap katanya, menguatkan niat di dalam hati, dan meningkatkan kekhusyukan kita dalam berdoa, berharap keberkahan dari Allah SWT melalui kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan keagungan surat Al-Fatihah.
