Tuliskan dan jelaskan macam nafsu !

Tuliskan dan jelaskan macam nafsu !

Jawaban 1 :

Nafsu ammarah:
nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat sesuatu di luar pertimbangan akal yang tenang, sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar mana yang salah, mana baik mana buruk.

Nafsu lawwamah:
nafsu yang sudah punya kesadaran, sehingga seseorang yang (terlanjur) berbuat salah atau tercela, akan tersadar, lalu menyesali diri atau merasa berdosa. Nafsu ini berdiri di simpang jalan antara ammarah dan muthmainnah.

Nafsu Muthmainnah:
nafsu yang telah didominasi dan dikuasai oleh iman lantaran sudah begitu masak oleh pengalaman dan gemblengan badai derita, sehingga mampu dan terampil memilah yang haq dari yang batil, di mana yang terakhir ini akan terpental dengan sendirinya. Di segala situasi, baik dalam duka derita maupun dalam suka cita, nafsu ini tetap dingin dan tenang. Atau dengan bahasa Buya Hamka, ia punya dua sayap: sayap sabar (di cuaca kelam dan kesulitan) dan sayap syukur (di saat jaya dan makmur). Di sini perlunya iman dan zikir.

Nafsu mulhamah:
unsur jiwa yang menerima ilham dari Tuhan, misalnya berbentuk ilmu pengetahuan.

Nafsu musawwalah:
nafsu yang bebas melakukan apa yang dimauinya tanpa peduli nilai aktivitasnya itu, kendatipun sudah mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

Nafsu radhiyah:
unsur jiwa yang menginsafi apa yang diterimanya dan menyatakan rasa syukur dalam menerima ridha Allah.

Nafsu mardhiyah:
nafsu yang senantiasa pasrah akan ridha Allah.

Nafsu kamilah:
unsur jiwa yang telah memiliki kesempurnaan, baik kulit maupun isi, lahir atau batin, luar dan dalam.

Kedua, berupa sepuluh rupa nafsu (jiwa atau sifat tercela) yang mendekam dalam diri manusia, sehingga sekuat mungkin harus dijinakkan dan (kalau perlu) digilas.

Nafsu kalbiyah:
Sifat anjing, yang perwujudannya antara lain suka memonopoli sendiri.

Nafsu himariyah:
jiwa keledai, yang pandai memikul namun tidak mengerti secuil pun apa yang dipikulnya. Dengan kata lain, ia tak memahami masalah.

Nafsu sabu’iyah:
jiwa serigala (suka-suka menyakiti atau menganiaya orang lain dengan cara apa pun).

Nafsu fa’riyah:
nyali tikus, sebangsa merusak, menilep, atau semacamnya.

Nafsu dzatis-suhumi wa hamati wal-hayati wal-aqrabi,
yaitu jiwa binatang penyengat berbisa sebagai ular dan kalajengking. (Senang menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang, dengki, dendam, dan semacamnya).

Nafsu khinziriyah:
sifat babi, yakni suka kepada yang kotor,busuk, apek, dan yang menjijikkan.

Nafsu thusiyah:
nafsu merak, antara lain suka menyombongkan diri, sok aksi, berlagak-lagu, busung dada, dan sebagainya.

Nafsu jamaliyah:
nafsu unta (tak punya rasa santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tak peduli kesusahan orang, yang penting dirinya selamat dan untung).

Nafsu dubbiyah:
jiwa beruang. Biarpun kuat dan gagah, tapi sontok akal alias dungu.

Nafsu qirdiyah:
jiwa beruk alias munyuk atau monyet (diberi ia mengejek, tak dikasih ia mencibir, sinis, dan suka melecehkan/memandang enteng
copas

Dijawab Oleh :

Arif Kuswandi, S.Pd.I

Jawaban 2 :

Nafsu ammarah:
nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat sesuatu di luar pertimbangan akal yang tenang, sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar mana yang salah, mana baik mana buruk.

Baca Juga:  Balasan orang yang beramal baik di akhirat adalah ?

Nafsu lawwamah:
nafsu yang sudah punya kesadaran, sehingga seseorang yang (terlanjur) berbuat salah atau tercela, akan tersadar, lalu menyesali diri atau merasa berdosa. Nafsu ini berdiri di simpang jalan antara ammarah dan muthmainnah.

Nafsu Muthmainnah:
nafsu yang telah didominasi dan dikuasai oleh iman lantaran sudah begitu masak oleh pengalaman dan gemblengan badai derita, sehingga mampu dan terampil memilah yang haq dari yang batil, di mana yang terakhir ini akan terpental dengan sendirinya. Di segala situasi, baik dalam duka derita maupun dalam suka cita, nafsu ini tetap dingin dan tenang. Atau dengan bahasa Buya Hamka, ia punya dua sayap: sayap sabar (di cuaca kelam dan kesulitan) dan sayap syukur (di saat jaya dan makmur). Di sini perlunya iman dan zikir.

Nafsu mulhamah:
unsur jiwa yang menerima ilham dari Tuhan, misalnya berbentuk ilmu pengetahuan.

Nafsu musawwalah:
nafsu yang bebas melakukan apa yang dimauinya tanpa peduli nilai aktivitasnya itu, kendatipun sudah mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

Nafsu radhiyah:
unsur jiwa yang menginsafi apa yang diterimanya dan menyatakan rasa syukur dalam menerima ridha Allah.

Nafsu mardhiyah:
nafsu yang senantiasa pasrah akan ridha Allah.

Nafsu kamilah:
unsur jiwa yang telah memiliki kesempurnaan, baik kulit maupun isi, lahir atau batin, luar dan dalam.

Kedua, berupa sepuluh rupa nafsu (jiwa atau sifat tercela) yang mendekam dalam diri manusia, sehingga sekuat mungkin harus dijinakkan dan (kalau perlu) digilas.

Nafsu kalbiyah:
Sifat anjing, yang perwujudannya antara lain suka memonopoli sendiri.

Nafsu himariyah:
jiwa keledai, yang pandai memikul namun tidak mengerti secuil pun apa yang dipikulnya. Dengan kata lain, ia tak memahami masalah.

Nafsu sabu’iyah:
jiwa serigala (suka-suka menyakiti atau menganiaya orang lain dengan cara apa pun).

Nafsu fa’riyah:
nyali tikus, sebangsa merusak, menilep, atau semacamnya.

Nafsu dzatis-suhumi wa hamati wal-hayati wal-aqrabi,
yaitu jiwa binatang penyengat berbisa sebagai ular dan kalajengking. (Senang menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang, dengki, dendam, dan semacamnya).

Nafsu khinziriyah:
sifat babi, yakni suka kepada yang kotor,busuk, apek, dan yang menjijikkan.

Nafsu thusiyah:
nafsu merak, antara lain suka menyombongkan diri, sok aksi, berlagak-lagu, busung dada, dan sebagainya.

Nafsu jamaliyah:
nafsu unta (tak punya rasa santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tak peduli kesusahan orang, yang penting dirinya selamat dan untung).

Nafsu dubbiyah:
jiwa beruang. Biarpun kuat dan gagah, tapi sontok akal alias dungu.

Nafsu qirdiyah:
jiwa beruk alias munyuk atau monyet (diberi ia mengejek, tak dikasih ia mencibir, sinis, dan suka melecehkan/memandang enteng
copas

Dijawab Oleh :

Dr. Yohanes Nong Loar, M.Pd

Penjelasan :

Memahami Konsep Nafsu: Energi Pendorong dalam Diri Manusia

Secara harfiah, nafsu (dari bahasa Arab, nafs) berarti jiwa, diri, atau ego. Ia adalah pusat dari keinginan, hasrat, dan emosi yang ada dalam diri manusia. Tanpa nafsu, manusia tidak akan memiliki keinginan untuk makan, minum, bekerja, atau bahkan beribadah. Ia adalah motor penggerak yang esensial.

Baca Juga:  Rumus menentukan harga pokok produksi dengan cara​ ?

Masalahnya muncul ketika motor ini tidak memiliki kemudi yang baik. Ketika dibiarkan liar, nafsu akan mendorong manusia pada tindakan-tindakan yang merusak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebaliknya, jika dikendalikan oleh akal sehat dan iman, nafsu bisa menjadi kekuatan luar biasa untuk mencapai prestasi dan kebaikan. Oleh karena itu, mengenali jenis-jenis nafsu adalah langkah pertama untuk menjadi “pengemudi” yang andal bagi diri sendiri.

Tuliskan dan Jelaskan 4 Macam Nafsu dan Pengertian Lengkapnya

Dalam khazanah ilmu tasawuf dan spiritualitas Islam, nafsu sering dibagi menjadi beberapa tingkatan yang menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang. Memahami 4 macam nafsu dan pengertian berikut ini akan memberikan peta yang jelas tentang kondisi batin kita.

1. Nafsu Amarah (Nafs al-Ammarah): Jiwa yang Mengajak pada Keburukan

Ini adalah tingkatan nafsu yang paling dasar dan primitif. Nafsu Amarah adalah jiwa yang secara aktif memerintahkan dan mendorong pemiliknya untuk melakukan kejahatan dan memuaskan hasrat hewani tanpa pertimbangan.

Pada level ini, seseorang sepenuhnya dikendalikan oleh keinginannya. Logika dan nurani seakan tumpul, dikalahkan oleh dorongan sesaat. Ciri-ciri utama orang yang didominasi Nafsu Amarah antara lain:

  • Egois dan Serakah: Selalu mementingkan diri sendiri dan tidak pernah merasa puas.
  • Pemarah dan Pendendam: Mudah tersulut emosi dan sulit memaafkan.
  • Iri Hati dan Sombong: Tidak suka melihat orang lain sukses dan merasa lebih baik dari yang lain.
  • Mengikuti Hawa Nafsu: Cenderung pada perbuatan maksiat seperti berbohong, mencuri, dan menuruti syahwat tanpa batas.

2. Nafsu Lawwamah (Nafs al-Lawwamah): Jiwa yang Menyesali Diri

Satu tingkat di atas Amarah, Nafsu Lawwamah adalah jiwa yang mulai memiliki kesadaran. Istilah lawwamah berarti “yang banyak mencela”. Ini adalah kondisi di mana hati nurani seseorang mulai aktif.

Seseorang pada tingkat ini masih sering terjerumus dalam kesalahan, namun setelah melakukannya, ia merasakan penyesalan yang mendalam. Terjadi pertarungan internal antara dorongan keburukan dan kesadaran akan kebaikan. Ciri khasnya adalah:

  • Labil: Mudah terombang-ambing antara ketaatan dan kemaksiatan.
  • Sering Menyesal: Merasa bersalah dan mencela diri sendiri setelah melakukan dosa.
  • Mulai Mengenal Benar dan Salah: Akal dan imannya sudah mulai berfungsi, meskipun belum cukup kuat untuk selalu menang.
  • Tahap Awal Taubat: Jiwa ini adalah gerbang menuju perbaikan diri, karena penyesalan adalah syarat pertama dari taubat.

3. Nafsu Mulhamah (Nafs al-Mulhamah): Jiwa yang Menerima Ilham

Nafsu Mulhamah adalah tingkatan di mana jiwa seseorang telah mulai bersih dan mampu menerima ilham atau inspirasi kebaikan dari Tuhan. Pada tahap ini, kecenderungan untuk berbuat baik jauh lebih kuat daripada berbuat buruk.

Baca Juga:  Sebutkan Bagian Bagian Ahli Waris ?

Seseorang dengan Nafsu Mulhamah menemukan kenikmatan dalam beribadah dan melakukan kebaikan. Ia sudah mampu melepaskan diri dari banyak sifat buruk seperti keserakahan dan kesombongan, meskipun terkadang masih bisa lalai. Karakteristiknya adalah:

  • Cinta pada Kebaikan: Merasa senang dan damai saat melakukan amal saleh.
  • Sabar dan Syukur: Lebih mudah menerima takdir dan berterima kasih atas nikmat.
  • Tawadhu (Rendah Hati): Mulai terbebas dari sifat sombong dan angkuh.
  • Menerima Inspirasi: Hatinya peka terhadap petunjuk dan ilham untuk berbuat baik.

4. Nafsu Muthmainnah (Nafs al-Muthmainnah): Puncak Ketenangan Jiwa

Inilah tingkatan nafsu yang menjadi dambaan setiap orang yang menempuh jalan spiritual. Nafsu Muthmainnah adalah jiwa yang telah mencapai ketenangan dan kedamaian sempurna. Jiwa ini sepenuhnya tunduk dan ridha pada ketentuan Allah SWT.

Pada level ini, tidak ada lagi pertarungan batin yang sengit. Jiwa telah menemukan kebahagiaan sejati dalam ketaatan dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Sifat-sifat tercela telah sirna, digantikan oleh akhlak mulia. Ciri-cirinya antara lain:

  • Tenang dan Stabil: Tidak mudah goyah oleh ujian atau godaan duniawi.
  • Ikhlas dan Ridha: Menerima segala sesuatu dengan lapang dada dan tanpa pamrih.
  • Tawakal Penuh: Berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan setelah berusaha maksimal.
  • Memancarkan Kebaikan: Kehadirannya membawa ketenangan dan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Analisis Mendalam: Cara Mengenali dan Mengelola Nafsu

Setelah memahami 4 macam nafsu dan pengertian di atas, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi di mana posisi kita dan bagaimana cara untuk terus naik tingkat. Proses ini disebut tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Membedakan Dorongan dan Karakteristik

Untuk mengenali nafsu yang dominan dalam diri, kita perlu jujur dalam melakukan introspeksi. Perhatikan kecenderungan emosi dan perilaku kita sehari-hari.

Ciri Dominan Nafsu Amarah & Lawwamah

  • Amarah: Apakah kita mudah marah karena hal sepele? Apakah kita sering merasa iri dengan pencapaian orang lain? Apakah kita sulit mengontrol keinginan untuk berfoya-foya?
  • Lawwamah: Apakah kita sering merasa bersalah setelah marah atau berbohong? Apakah ada siklus “berbuat dosa -> menyesal -> berbuat lagi”? Jika ya, kemungkinan besar kita berada di antara dua level ini.

Ciri Dominan Nafsu Mulhamah & Muthmainnah

  • Mulhamah: Apakah kita merasa lebih damai saat berzikir atau bersedekah? Apakah pikiran kita lebih sering terinspirasi untuk melakukan hal-hal positif?
  • Muthmainnah: Apakah hati kita terasa lapang saat menghadapi kesulitan? Apakah kita tidak lagi terlalu khawatir tentang urusan dunia? Ini adalah tanda-tanda jiwa yang telah mencapai ketenangan.

Pentingnya Mengenali Nafsu dalam Kehidupan

Mengenali tingkat nafsu bukan untuk menghakimi diri sendiri atau orang lain, melainkan sebagai alat diagnosis untuk perbaikan. Dengan mengetahui “penyakit” jiwa, kita bisa mencari “obat” yang tepat, seperti memperbanyak ibadah, bergaul dengan orang-orang saleh, menuntut ilmu, dan melatih kesabaran. Perjalanan mengelola nafsu adalah sebuah jihad terbesar yang berlangsung seumur hidup.

Kesimpulan

Pada intinya, nafsu adalah energi netral yang menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menjadi sumber kehancuran atau sumber kemuliaan, tergantung bagaimana kita mengendalikannya. Memahami 4 macam nafsu dan pengertian dasarnya—Amarah, Lawwamah, Mulhamah, dan Muthmainnah—memberikan kita kerangka kerja yang jelas untuk melakukan evaluasi diri.

Perjalanan dari Nafsu Amarah menuju Nafsu Muthmainnah adalah esensi dari pertumbuhan spiritual. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kegigihan, dan pertolongan dari Tuhan. Dengan terus berusaha menyucikan jiwa, kita tidak hanya akan meraih ketenangan batin, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi dunia di sekitar kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top