“Kebersihan itu sebagian dari iman.” (H.R. Muslim), Hadis tersebut menegaskan tentang ?

“Kebersihan itu sebagian dari iman.” (H.R. Muslim), Hadis tersebut menegaskan tentang ?

Jawaban 1 :

Hidup bersih itu sehat. Dilingkungan sekitar terkadang bnyk yg hidup bersih walaupun terkadang lingkungan nya kotor dengan memperhatikan hal kecil sekalipun. Walaupun tanpa kita sadar kita wajib menjaga kebersihan dilingkungan sekitar kita untuk menjaga keimanan. Karena seperti hadits diatas kebersihan itu sebagian dari iman. Jika lingkungan kotor kita pun tidak akan nyaman dengan sekitar. Jagalah kebersihan dan patuhi tata tertib lingkungan.

Dan taharah itu bersuci. Suci dari Hadas dan najis.

Dijawab Oleh :

Sugiamma, M.Pd

Jawaban 2 :

Hidup bersih itu sehat. Dilingkungan sekitar terkadang bnyk yg hidup bersih walaupun terkadang lingkungan nya kotor dengan memperhatikan hal kecil sekalipun. Walaupun tanpa kita sadar kita wajib menjaga kebersihan dilingkungan sekitar kita untuk menjaga keimanan. Karena seperti hadits diatas kebersihan itu sebagian dari iman. Jika lingkungan kotor kita pun tidak akan nyaman dengan sekitar. Jagalah kebersihan dan patuhi tata tertib lingkungan.

Dan taharah itu bersuci. Suci dari Hadas dan najis.

Dijawab Oleh :

Susi Ferawati, S.Pd

Penjelasan :

Membedah Makna Hadis: “Ath-Thuhuru Syatrul Iman”

Untuk memahami pesan utamanya, kita perlu melihat teks asli hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Ath-thuhuru syatrul iman”

Artinya: “Bersuci itu adalah setengah dari iman.” (H.R. Muslim)

Baca Juga:  Apa manfaatnya kamu mengetahui sifat Allah itu al-Azim ?

Ada dua kata kunci penting di sini: Ath-Thuhur (bersuci) dan Syatrul Iman (setengah/sebagian iman). Kata “Ath-Thuhur” memiliki makna yang lebih spesifik daripada sekadar “An-Nazhafah” (kebersihan umum). Ath-Thuhur merujuk pada kesucian ritual yang menghilangkan hadas (kondisi tidak suci), seperti wudu dan mandi wajib. Hal ini menegaskan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman bukan hanya dalam konteks fisik, tetapi juga spiritual.

Sementara itu, frasa “Syatrul Iman” yang berarti “setengah” atau “sebagian” dari iman menunjukkan betapa fundamentalnya posisi kesucian dalam struktur keimanan seorang Muslim. Ini bukan sekadar anjuran tambahan, melainkan komponen inti yang tanpanya, iman seseorang dianggap tidak sempurna.

Dimensi Kebersihan yang Menyeluruh dalam Islam

Hadis ini menegaskan bahwa konsep kebersihan dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas, melampaui kebersihan badan dan lingkungan semata. Para ulama menjelaskan bahwa prinsip kebersihan adalah sebagian dari iman mencakup setidaknya tiga dimensi utama.

Kebersihan Lahiriah (Fisik)

Ini adalah makna yang paling mudah dipahami dan sering dipraktikkan. Kebersihan lahiriah adalah fondasi yang terlihat mata, mencakup:

  • Kebersihan Badan: Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga kebersihan tubuh melalui wudu sebelum shalat, mandi wajib setelah hadas besar, serta anjuran untuk memotong kuku, menjaga kebersihan gigi, dan memakai wewangian.
  • Kebersihan Pakaian dan Tempat: Shalat tidak akan sah jika dilakukan dengan pakaian yang terkena najis atau di tempat yang kotor. Ini mengajarkan bahwa ibadah harus dilakukan dalam keadaan suci secara total.
  • Kebersihan Lingkungan: Menjaga kebersihan rumah, masjid, dan lingkungan sekitar adalah cerminan dari iman. Membuang sampah pada tempatnya dan tidak mencemari sumber air adalah bagian dari praktik ajaran ini.

Kebersihan Batiniah (Spiritual)

Inilah esensi dan makna terdalam dari hadis tersebut. Kebersihan batiniah atau tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) adalah pilar utama yang membuat kebersihan fisik menjadi bernilai di sisi Allah SWT. Tanpa kebersihan hati, kebersihan fisik hanyalah tindakan tanpa ruh.

Baca Juga:  Nasehat imam syafi'i tentang ilmu tulisan arab beserta artinya !

Penyucian jiwa berarti membersihkan hati dari berbagai penyakit spiritual, seperti:

  • Syirik: Menyekutukan Allah adalah kotoran batin paling besar.
  • Kibr (Sombong): Merasa lebih baik dari orang lain.
  • Hasad (Dengki): Merasa tidak senang atas nikmat yang diterima orang lain.
  • Riya’ (Pamer): Melakukan ibadah untuk mencari pujian manusia.
  • Ghibah (Menggunjing): Membicarakan keburukan orang lain.

Membersihkan hati dari kotoran-kotoran ini adalah perjuangan seumur hidup. Inilah mengapa kebersihan adalah sebagian dari iman, karena menjaga kesucian hati adalah separuh perjuangan dalam mempertahankan iman itu sendiri.

Kebersihan Harta dan Pikiran

Dimensi ini seringkali terlewatkan. Islam juga menekankan pentingnya menjaga “kebersihan” dalam aspek materi dan intelektual.

  • Kebersihan Harta: Harta yang bersih adalah harta yang didapat dari sumber yang halal dan telah ditunaikan hak-haknya, seperti zakat. Zakat secara harfiah berarti “menyucikan”, yaitu menyucikan harta dari hak orang lain.
  • Kebersihan Pikiran: Menjaga pikiran dari prasangka buruk (su’udzan), khayalan kotor, dan ide-ide yang merusak akidah adalah bentuk kebersihan intelektual. Mengisi pikiran dengan ilmu yang bermanfaat dan dzikir kepada Allah adalah cara untuk menjaganya tetap bersih.

Implementasi “Kebersihan Adalah Sebagian dari Iman” dalam Kehidupan

Memahami bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman harus mendorong kita untuk mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya saat akan beribadah.

Dalam Ibadah: Fondasi yang Tak Terpisahkan

Setiap ibadah utama dalam Islam, terutama shalat, diawali dengan prosesi bersuci. Wudu adalah syarat mutlak sahnya shalat. Ini adalah pengingat harian bahwa sebelum menghadap Sang Maha Suci, seorang hamba harus menyucikan dirinya terlebih dahulu. Ini adalah simbolisasi dari proses penyucian diri secara lahir dan batin.

Dalam Kehidupan Sosial dan Lingkungan

Prinsip kebersihan ini membentuk etika sosial seorang Muslim. Seorang yang beriman tidak akan rela melihat lingkungannya kotor, karena itu mencerminkan kondisi imannya.

Baca Juga:  Bangkai binatang yang halal dimakan Adalah ?

Menjaga Fasilitas Umum

Seorang Muslim yang memahami hadis ini akan turut serta menjaga kebersihan fasilitas umum seperti toilet, taman kota, atau transportasi publik. Ia sadar bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama yang bernilai pahala.

Menjaga Lisan dan Pergaulan

“Kebersihan” dalam interaksi sosial berarti menjaga lisan dari ucapan kotor, fitnah, dan adu domba. Ia akan memilih teman bergaul yang “bersih” akhlaknya, karena pergaulan sangat memengaruhi kebersihan hati dan pikiran.

Hikmah Agung di Balik Anjuran Kebersihan

Allah SWT tidak memerintahkan sesuatu kecuali di dalamnya terdapat hikmah dan kebaikan yang besar bagi hamba-Nya. Prinsip bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman mengandung banyak sekali keutamaan, di antaranya:

  • Dicintai oleh Allah: Al-Qur’an dengan tegas menyatakan, “…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222). Menjaga kebersihan adalah cara untuk meraih cinta Allah.
  • Menjaga Kesehatan: Kebersihan fisik dan lingkungan adalah kunci utama untuk mencegah berbagai macam penyakit. Ajaran ini relevan sepanjang zaman dan terbukti secara ilmiah.
  • Meningkatkan Kualitas Hidup: Lingkungan yang bersih menciptakan kenyamanan, ketenangan, dan produktivitas. Hubungan sosial yang “bersih” dari prasangka dan kebencian akan menciptakan masyarakat yang harmonis.
  • Cerminan Citra Islam: Seorang Muslim yang bersih dan rapi akan memberikan citra positif terhadap agamanya. Ia menjadi duta berjalan yang menunjukkan keindahan ajaran Islam.

Kesimpulan

Hadis “Ath-thuhuru syatrul iman” menegaskan sebuah konsep yang fundamental dan holistik. Jauh dari sekadar anjuran untuk menjaga kebersihan fisik, hadis ini mengajarkan bahwa kesucian adalah inti dari separuh keimanan. Ia mencakup kebersihan lahiriah, kesucian batiniah dari penyakit hati, kehalalan harta, serta kebersihan pikiran dan lisan.

Dengan demikian, prinsip kebersihan adalah sebagian dari iman berfungsi sebagai panduan hidup yang komprehensif bagi seorang Muslim. Ia mendorong kita untuk senantiasa menyucikan seluruh aspek diri—tubuh, jiwa, harta, dan interaksi—demi meraih kesempurnaan iman dan menggapai cinta dari Allah, Sang Maha Suci.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top