Salah satu contoh ketidakadilan gender adalah ?

Salah satu contoh ketidakadilan gender adalah ?

Jawaban 1 :

adanya anggapan dalam masyarakat tertentu bahwa perempuan tidak berhak mendapatkan warisan.

Dijawab Oleh :

Sugiamma, M.Pd

Jawaban 2 :

adanya anggapan dalam masyarakat tertentu bahwa perempuan tidak berhak mendapatkan warisan.

Dijawab Oleh :

Susi Ferawati, S.Pd

Penjelasan :

Memahami Konsep: Apa yang Dimaksud dengan Ketidakadilan Gender?

Sebelum melangkah lebih jauh, sangat penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan ketidakadilan gender. Secara mendasar, ketidakadilan gender adalah kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang dirugikan atau tidak mendapatkan hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama semata-mata karena gendernya. Ini adalah sebuah sistem yang menempatkan satu gender di atas gender lainnya, menciptakan hierarki yang tidak adil.

Penting untuk membedakan antara gender dan jenis kelamin. Jenis kelamin (sex) merujuk pada atribut biologis (laki-laki dan perempuan), sedangkan gender adalah peran, perilaku, dan atribut yang dikonstruksikan secara sosial oleh masyarakat. Ketidakadilan gender muncul ketika masyarakat meyakini bahwa peran-peran yang dikonstruksikan ini bersifat kodrati dan kaku, sehingga membatasi potensi individu dan melahirkan diskriminasi.

Bentuk-Bentuk Umum Ketidakadilan Gender

Ketidakadilan gender bermanifestasi dalam berbagai bentuk yang sering kali saling terkait. Memahami bentuk-bentuk ini membantu kita mengidentifikasi masalah secara lebih jelas dan menjawab pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan ketidakadilan gender dalam konteks yang lebih luas.

Baca Juga:  Dalam surah Al Mu'min ayat 60 Allah berjanji bahwa​ ?

Marginalisasi (Peminggiran)

Marginalisasi adalah proses peminggiran atau penyingkiran satu kelompok gender dari akses terhadap sumber daya, kesempatan, atau posisi penting. Kelompok yang termarginalisasi sering kali dianggap tidak penting atau tidak mampu, sehingga partisipasi mereka dalam sektor ekonomi, politik, atau sosial menjadi sangat terbatas.

Sebagai contoh, anggapan bahwa perempuan tidak cocok menjadi pemimpin teknologi atau insinyur dapat menyebabkan mereka tersingkir dari proses rekrutmen di industri tersebut. Ini bukan karena mereka tidak kompeten, melainkan karena prasangka sistemik yang meminggirkan mereka.

Subordinasi (Penomorduaan)

Subordinasi adalah anggapan yang menempatkan satu gender sebagai lebih rendah atau kurang penting dibandingkan gender lainnya. Pandangan ini sering kali berakar pada keyakinan bahwa satu gender (biasanya laki-laki) memiliki superioritas dalam hal kemampuan intelektual, fisik, atau kepemimpinan.

Contoh klasik subordinasi adalah pandangan bahwa peran utama perempuan adalah di ranah domestik (mengurus rumah tangga dan anak), sementara laki-laki berperan di ranah publik (mencari nafkah). Anggapan ini menomorduakan peran perempuan dan membatasi pilihan karir serta pengembangan diri mereka.

Stereotip Gender (Pelabelan Negatif)

Stereotip adalah pelabelan atau citra baku yang dilekatkan pada seseorang berdasarkan gendernya, tanpa mempertimbangkan keunikan individu. Stereotip ini bisa bersifat positif maupun negatif, namun keduanya sama-sama membatasi dan berbahaya.

Beberapa stereotip yang umum adalah “laki-laki harus kuat dan tidak boleh menangis” atau “perempuan itu emosional dan tidak logis”. Pelabelan semacam ini tidak hanya menciptakan tekanan psikologis, tetapi juga menjadi pembenaran untuk bentuk ketidakadilan lainnya seperti subordinasi dan kekerasan.

Contoh Nyata Ketidakadilan Gender: Kesenjangan Upah

Jika ditanya, “Salah satu contoh ketidakadilan gender adalah ?”, maka kesenjangan upah berbasis gender (Gender Pay Gap) adalah salah satu jawaban yang paling konkret dan terukur. Ini adalah manifestasi nyata dari berbagai bentuk ketidakadilan yang telah disebutkan sebelumnya.

Baca Juga:  Sebutkan 10 tata tertib sekolah !

Apa Itu Kesenjangan Upah Berbasis Gender?

Kesenjangan upah berbasis gender adalah perbedaan rata-rata pendapatan antara laki-laki dan perempuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa secara global, perempuan sering kali dibayar lebih rendah daripada laki-laki, bahkan ketika mereka melakukan pekerjaan yang sama atau memiliki kualifikasi yang setara.

Kesenjangan ini bukan sekadar mitos, melainkan fakta yang didukung oleh data dari berbagai lembaga internasional seperti World Economic Forum dan International Labour Organization (ILO). Perbedaan ini menjadi bukti nyata adanya diskriminasi sistemik di pasar tenaga kerja.

Faktor Penyebab Kesenjangan Upah

Kesenjangan upah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor kompleks yang menjadi penyebabnya, yang berakar kuat pada struktur sosial dan budaya.

Pekerjaan yang Tersegregasi Gender

Salah satu penyebab utama adalah segregasi pekerjaan. Masyarakat cenderung mengarahkan perempuan ke sektor-sektor pekerjaan tertentu yang dianggap “feminin” seperti pengajaran, keperawatan, atau administrasi. Sialnya, sektor-sektor ini sering kali dinilai lebih rendah dan diberi upah yang lebih kecil dibandingkan sektor yang didominasi laki-laki seperti teknik, konstruksi, atau teknologi.

Beban Ganda dan “Motherhood Penalty”

Perempuan sering kali menanggung beban ganda, yaitu tanggung jawab untuk pekerjaan profesional di ranah publik dan pekerjaan domestik (tak berbayar) di rumah. Beban ini membuat banyak perempuan terpaksa mengambil pekerjaan paruh waktu atau karir yang lebih fleksibel namun dengan bayaran lebih rendah. Selain itu, ada fenomena “motherhood penalty”, di mana seorang ibu mengalami penurunan pendapatan atau kesempatan promosi setelah memiliki anak, sebuah penalti yang jarang dialami oleh para ayah.

Dampak dan Upaya Mengatasi Ketidakadilan Gender

Ketidakadilan gender membawa dampak negatif yang luas, tidak hanya bagi individu yang menjadi korban, tetapi juga bagi kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Dampaknya mencakup kemiskinan, terhambatnya pertumbuhan ekonomi, tingginya angka kekerasan, hingga masalah kesehatan mental.

Baca Juga:  Sebutkan 5 cita-cita yang cocok untuk wanita !

Mengatasi masalah ini membutuhkan upaya kolektif dari berbagai pihak. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:

  • Kebijakan Pro-Kesetaraan: Menerapkan undang-undang yang menjamin upah setara untuk pekerjaan yang setara, cuti melahirkan yang adil bagi ayah dan ibu, serta perlindungan dari diskriminasi di tempat kerja.
  • Edukasi dan Kampanye: Meningkatkan kesadaran publik mengenai apa yang dimaksud dengan ketidakadilan gender dan bahaya stereotip melalui pendidikan formal dan kampanye media.
  • Mendorong Kepemimpinan Perempuan: Memberikan lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi strategis di bidang politik, bisnis, dan sains.
  • Membongkar Norma Sosial: Mendorong pembagian peran domestik yang lebih adil di dalam keluarga dan menantang stereotip gender yang membatasi sejak usia dini.

Kesimpulan

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, “Salah satu contoh ketidakadilan gender adalah ?” Jawabannya bisa sangat beragam, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, terbatasnya akses pendidikan, hingga yang sangat terukur seperti kesenjangan upah. Namun, semua contoh ini berakar pada satu konsep inti yang sama: sebuah sistem yang tidak adil yang merugikan seseorang berdasarkan gendernya.

Memahami apa yang dimaksud dengan ketidakadilan gender adalah langkah pertama untuk membongkar sistem tersebut. Ini bukan tentang menyalahkan satu pihak, melainkan tentang menyadari adanya struktur yang tidak seimbang dan bekerja bersama untuk memperbaikinya. Menciptakan dunia yang adil secara gender berarti menciptakan masyarakat di mana setiap individu, terlepas dari gendernya, dapat meraih potensi penuh mereka tanpa hambatan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top