Surat al-hujurat ayat 12 beserta artinya perkata​ ?

Surat al-hujurat ayat 12 beserta artinya perkata​ ?

Jawaban 1 :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

yaaa ayyuhallaziina aamanujtanibuu kasiirom minazh-zhonni inna ba’dhozh-zhonni ismuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba’dhukum ba’dhoo, a yuhibbu ahadukum ay ya-kula lahma akhiihi maitang fa karihtumuuh, wattaqulloh, innalloha tawwaabur rohiim

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”

(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Dijawab Oleh :

Dr. Yohanes Nong Loar, M.Pd

Jawaban 2 :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

yaaa ayyuhallaziina aamanujtanibuu kasiirom minazh-zhonni inna ba’dhozh-zhonni ismuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba’dhukum ba’dhoo, a yuhibbu ahadukum ay ya-kula lahma akhiihi maitang fa karihtumuuh, wattaqulloh, innalloha tawwaabur rohiim

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”

(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Dijawab Oleh :

Arif Kuswandi, S.Pd.I

Penjelasan :

Teks Lengkap Surat Al-Hujurat Ayat 12 dan Terjemahannya

Sebelum kita menyelami makna setiap kata, mari kita baca terlebih dahulu teks lengkap dari Surat Al-Hujurat ayat 12, beserta transliterasi dan terjemahan utuhnya.

Baca Juga:  Dalam surah Al Mu'min ayat 60 Allah berjanji bahwa​ ?

Teks Arab:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Transliterasi:
Yā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm.

Terjemahan Kemenag RI:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Membedah Makna: Arti Per Kata Surat Al-Hujurat Ayat 12

Untuk memahami pesan luhur dalam ayat ini secara utuh, metode terbaik adalah dengan membedah setiap frasa dan katanya. Berikut adalah uraian detail mengenai arti per kata Surat Al-Hujurat ayat 12:

  • يٰٓاَيُّهَا (yā ayyuhā): Wahai
  • الَّذِيْنَ (allażīna): Orang-orang yang
  • اٰمَنُوا (āmanụ): Mereka beriman
  • اجْتَنِبُوْا (ijtanibụ): Jauhilah olehmu
  • كَثِيْرًا (kaṡīran): Banyak
  • مِّنَ (mina): Dari
  • الظَّنِّ (aẓ-ẓanni): Prasangka
  • اِنَّ (inna): Sesungguhnya
  • بَعْضَ (ba’ḍa): Sebagian
  • الظَّنِّ (aẓ-ẓanni): Prasangka
  • اِثْمٌ (iṡmun): (adalah) dosa
  • وَّلَا (wa lā): Dan janganlah
  • تَجَسَّسُوْا (tajassasụ): Kamu mencari-cari kesalahan
  • وَلَا يَغْتَبْ (wa lā yagtab): Dan janganlah menggunjing
  • بَّعْضُكُمْ (ba’ḍukum): Sebagian kamu
  • بَعْضًا (ba’ḍā): Sebagian yang lain
  • اَيُحِبُّ (a yuḥibbu): Apakah suka
  • اَحَدُكُمْ (aḥadukum): Salah seorang di antara kamu
  • اَنْ يَّأْكُلَ (ay ya’kula): Bahwa dia memakan
  • لَحْمَ (laḥma): Daging
  • اَخِيْهِ (akhīhi): Saudaranya
  • مَيْتًا (maitan): yang sudah mati
  • فَكَرِهْتُمُوْهُ (fa karihtumụh): Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya
  • وَاتَّقُوا (wattaqụ): Dan bertakwalah
  • اللّٰهَ (Allāha): Kepada Allah
  • اِنَّ اللّٰهَ (innallāha): Sesungguhnya Allah
  • تَوَّابٌ (tawwābun): Maha Penerima tobat
  • رَّحِيْمٌ (raḥīm): Maha Penyayang

Memahami arti per kata Surat Al-Hujurat ayat 12 seperti ini membuka wawasan kita tentang betapa spesifik dan lugasnya perintah serta larangan yang Allah berikan untuk menjaga kehormatan sesama Muslim.

Baca Juga:  Siapa nama bapak pandu sedunia dan nama ayah ibunya ?

Tiga Larangan Pokok dalam Surat Al-Hujurat Ayat 12

Ayat ini secara eksplisit menyebutkan tiga perbuatan tercela yang harus dijauhi oleh orang beriman. Ketiganya merupakan penyakit sosial yang sangat destruktif.

Larangan Berprasangka Buruk (الظَّنِّ)

Perintah pertama adalah اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ (Jauhilah banyak dari prasangka). Kata Az-Zhan (prasangka) adalah dugaan atau tuduhan tanpa dasar bukti yang kuat. Ayat ini menegaskan bahwa “sebagian prasangka itu dosa” (اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ).

Ini menunjukkan bahwa tidak semua prasangka dilarang. Prasangka baik (husnuzan) justru dianjurkan. Namun, karena manusia cenderung mudah terjerumus pada prasangka buruk (su’uzan), Allah memerintahkan kita untuk menjauhi “banyak” prasangka sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak jatuh ke dalam dosa.

Larangan Mencari-cari Kesalahan (تَجَسَّسُوا)

Larangan kedua adalah وَّلَا تَجَسَّسُوْا (Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan). Tajassus adalah tindakan aktif untuk memata-matai, menyelidiki, atau mencari aib dan kekurangan orang lain yang mereka sembunyikan. Ini adalah pelanggaran privasi yang berat.

Islam sangat menjaga kehormatan seorang individu. Ketika seseorang berusaha menutupi aibnya, orang lain tidak berhak untuk membongkarnya. Perilaku ini dapat merusak kepercayaan dan menimbulkan kecurigaan dalam masyarakat.

Larangan Menggunjing atau Ghibah (يَغْتَبْ)

Larangan ketiga dan yang paling sering terjadi adalah وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا (Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain). Ghibah didefinisikan oleh Rasulullah SAW sebagai “menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai (jika mendengarnya).”

Bahkan jika yang dibicarakan adalah sebuah kebenaran, hal itu tetap terhitung sebagai ghibah dan dilarang. Dosa ini dianggap sangat keji, sehingga Allah memberikan perumpamaan yang luar biasa mengerikan untuk menggambarkannya.

Tafsir dan Konteks Mendalam Ayat 12

Untuk semakin menghayati pesan ayat ini, penting untuk memahami hikmah dan tafsir di balik setiap larangan yang diberikan oleh Allah SWT.

Hikmah di Balik Larangan Prasangka

Prasangka buruk adalah pintu gerbang menuju dosa-dosa sosial lainnya. Berawal dari dugaan negatif di dalam hati, seseorang bisa terdorong untuk melakukan tajassus (mencari-cari bukti untuk membenarkan prasangkanya) dan berakhir dengan ghibah (menyebarkan aib yang ditemukannya). Dengan menutup pintu prasangka, kita menjaga hati agar tetap bersih dan mencegah benih-benih fitnah tumbuh.

Baca Juga:  Jelaskan apa yang di maksud dengan al insanu mahallul khata wan nisyan !

Bahaya Tajassus dan Ghibah bagi Masyarakat

Dua larangan berikutnya, yaitu tajassus dan ghibah, memiliki dampak langsung terhadap rusaknya tatanan sosial dan persaudaraan.

Merusak Ukhuwah Islamiyah

Kepercayaan adalah fondasi utama dari persaudaraan (ukhuwah). Ketika praktik saling memata-matai dan menggunjing menjadi kebiasaan, rasa saling percaya akan hilang. Hubungan yang seharusnya dilandasi kasih sayang berubah menjadi penuh curiga dan kebencian.

Analogi Mengerikan: Memakan Bangkai Saudara Sendiri

Allah bertanya, اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا (Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?). Pertanyaan retoris ini adalah pukulan telak untuk menyadarkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah.

Mengapa diumpamakan seperti itu? Karena saat kita menggunjing seseorang, orang tersebut tidak hadir untuk membela diri. Ia “tidak berdaya” layaknya mayat. Kita sedang “mencabik-cabik” kehormatannya tanpa perlawanan, sama seperti memakan daging bangkai yang tidak bisa melawan. Penegasan فَكَرِهْتُمُوْهُ (tentu kamu merasa jijik) menunjukkan bahwa secara fitrah, tidak ada manusia normal yang mau melakukan hal sekeji itu.

Relevansi Ayat 12 di Era Digital

Di zaman teknologi informasi saat ini, tiga larangan dalam Surat Al-Hujurat ayat 12 menjadi semakin relevan.

  • Prasangka Buruk: Mudah muncul saat kita hanya melihat potongan status, foto, atau komentar seseorang di media sosial tanpa mengetahui konteks lengkapnya.
  • Tajassus: Terwujud dalam bentuk stalking atau memata-matai profil media sosial orang lain dengan niat mencari-cari kesalahan atau bahan untuk bergosip.
  • Ghibah: Menjadi lebih mudah dan cepat menyebar melalui grup percakapan (seperti WhatsApp), kolom komentar, atau unggahan yang menyebarkan gosip dan aib orang lain.

Oleh karena itu, mengamalkan ayat ini di era digital berarti kita harus lebih bijak dalam menggunakan jari-jari kita, menahan diri untuk tidak berkomentar negatif, serta tidak ikut menyebarkan informasi tentang orang lain yang belum terverifikasi dan berpotensi merusak kehormatannya.

Kesimpulan

Surat Al-Hujurat ayat 12 adalah panduan etika sosial yang abadi dari Allah SWT. Melalui pemahaman mendalam tentang arti per kata Surat Al-Hujurat ayat 12, kita dapat menyadari betapa seriusnya larangan terhadap prasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan ghibah. Ayat ini bukan sekadar larangan, tetapi sebuah resep untuk membangun masyarakat yang sehat, saling percaya, dan penuh kasih sayang.

Pada akhirnya, ayat ini ditutup dengan perintah untuk bertakwa (وَاتَّقُوا اللّٰهَ) dan pengingat bahwa Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang (اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ). Ini adalah pesan harapan bahwa sekalipun kita pernah terjerumus dalam dosa-dosa tersebut, pintu ampunan Allah selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh dan berjanji untuk memperbaiki diri. Mari kita jadikan ayat mulia ini sebagai cermin untuk introspeksi diri dan benteng untuk menjaga lisan serta hati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top