Rumah adat Sulawesi Selatan adalah ?
Jawaban 1 :
Tongkonan lah kan dr Sulsel
Dijawab Oleh :
Dr. Yohanes Nong Loar, M.Pd
Jawaban 2 :
Tongkonan lah kan dr Sulsel
Dijawab Oleh :
Arif Kuswandi, S.Pd.I
Penjelasan :
Jawaban Populer untuk Pertanyaan TTS Rumah Adat Sulawesi Selatan
Jika Anda sedang terburu-buru mengisi TTS, jawaban yang paling umum dan sering diterima untuk pertanyaan rumah adat Sulawesi Selatan adalah Tongkonan. Rumah adat suku Toraja ini memang yang paling ikonik dan dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara, berkat bentuknya yang unik.
Namun, perlu diketahui bahwa Sulawesi Selatan adalah rumah bagi beberapa suku besar lainnya seperti Bugis dan Makassar, yang juga memiliki rumah adat khasnya sendiri. Jadi, secara teknis, jawabannya bisa lebih dari satu. Jawaban lainnya yang mungkin adalah Balla (Makassar) atau Saoraja (Bugis).
Mengenal Lebih Dekat Ragam Rumah Adat di Sulawesi Selatan
Untuk memahami kekayaan arsitektur tradisional provinsi ini, mari kita kenali satu per satu rumah adat yang menjadi simbol kebanggaan setiap suku. Masing-masing memiliki ciri khas, struktur, dan filosofi yang mendalam.
Rumah Adat Tongkonan (Suku Toraja)
Tongkonan adalah mahakarya arsitektur dari Suku Toraja yang mendiami wilayah pegunungan di bagian utara Sulawesi Selatan. Namanya berasal dari kata tongkon yang berarti “duduk bersama”, menunjukkan fungsinya sebagai pusat kehidupan keluarga, pusat pemerintahan adat, dan tempat ritual sakral.
Bentuk atapnya yang melengkung menyerupai perahu atau tanduk kerbau menjadi ciri khas utamanya. Atap ini terbuat dari susunan bilah bambu yang ditumpuk tebal. Seluruh struktur bangunannya dibuat dari kayu uru, jenis kayu lokal yang kuat, dan dirakit menggunakan sistem pasak tanpa paku sama sekali. Dindingnya dihiasi dengan ukiran empat warna dasar (merah, putih, kuning, hitam) yang masing-masing memiliki makna filosofis.
Rumah Adat Balla (Suku Makassar)
Bergeser ke wilayah pesisir selatan, kita akan menemukan Rumah Balla milik Suku Makassar. Rumah ini merupakan jenis rumah panggung yang dibangun untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sebagai bentuk perlindungan dari binatang buas pada zaman dahulu.
Struktur rumah Balla secara vertikal terbagi menjadi tiga bagian yang melambangkan kosmologi dunia:
- Boting Langi: Bagian atas atau loteng, dianggap sebagai dunia para dewa dan digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka.
- Kalle Balla: Bagian tengah atau badan rumah, merupakan tempat tinggal manusia.
- Siring: Bagian bawah kolong rumah, dianggap sebagai dunia bawah dan digunakan untuk menyimpan alat pertanian atau sebagai kandang ternak.
Rumah Adat Saoraja / Bola (Suku Bugis)
Mirip dengan Rumah Balla, Suku Bugis juga memiliki rumah panggung yang disebut Saoraja atau Bola. Perbedaan nama ini didasarkan pada status sosial pemiliknya. Saoraja (berarti “rumah besar”) adalah sebutan untuk rumah para bangsawan, sementara Bola adalah sebutan untuk rumah rakyat biasa.
Struktur dan filosofi pembagian ruangnya pun serupa dengan rumah adat Makassar, yang menunjukkan adanya pertukaran budaya yang erat. Bagian-bagiannya adalah:
- Rakkeang: Loteng untuk menyimpan padi dan benda berharga.
- Ale Bola: Badan rumah, pusat aktivitas penghuninya.
- Awasao: Kolong rumah yang fungsinya sama dengan Siring pada Rumah Balla.
Filosofi dan Makna di Balik Arsitektur Uniknya
Keindahan rumah adat Sulawesi Selatan tidak hanya terletak pada fisiknya, tetapi juga pada makna dan filosofi yang terkandung di setiap detailnya. Arsitektur ini adalah cerminan dari cara pandang masyarakatnya terhadap alam, kehidupan sosial, dan spiritualitas.
Simbolisme Kosmologis: Tiga Dunia
Konsep pembagian rumah menjadi tiga bagian vertikal (atas, tengah, bawah) pada Rumah Balla dan Saoraja adalah representasi dari alam semesta dalam kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar. Dunia atas (langit) adalah tempat suci, dunia tengah adalah alam manusia, dan dunia bawah adalah alam kegelapan atau dunia binatang. Struktur ini mengajarkan keseimbangan hidup antara ketiga dunia tersebut.
Status Sosial dalam Detail Bangunan
Struktur dan ornamen pada rumah adat juga berfungsi sebagai penanda status sosial pemiliknya di tengah masyarakat. Hal ini terlihat jelas pada beberapa elemen bangunan.
Timpa Laja pada Rumah Bugis
Pada rumah Bugis, terdapat sebuah bidang segitiga di ujung atap yang disebut Timpa Laja. Jumlah susunan pada Timpa Laja ini menunjukkan tingkat kebangsawanan pemilik rumah. Semakin banyak susunannya, semakin tinggi status sosialnya di masyarakat.
Tanduk Kerbau di Rumah Tongkonan
Bagi masyarakat Toraja, kerbau (tedong) adalah hewan yang sangat dihormati dan menjadi simbol kemakmuran dan status. Di bagian depan Rumah Tongkonan, sering kali dipajang deretan tanduk kerbau yang pernah dikorbankan dalam upacara adat Rambu Solo’ (upacara pemakaman). Semakin banyak tanduk yang terpasang, semakin tinggi derajat dan kehormatan keluarga tersebut.
Jawaban Pasti untuk Rumah Adat Sulawesi Selatan TTS
Kembali ke persoalan utama, jadi apa jawaban yang paling tepat untuk mengisi kolom TTS? Jika pertanyaan TTS hanya berbunyi “rumah adat sulawesi selatan tts” dengan beberapa kotak, berikut adalah panduan Anda:
- Jika tersedia 9 kotak, jawaban yang paling mungkin adalah TONGKONAN.
- Jika tersedia 5 kotak, jawaban yang mungkin adalah BALLA.
- Jika tersedia 7 kotak, jawaban yang mungkin adalah SAORAJA.
Meskipun ada tiga pilihan, Tongkonan adalah jawaban yang paling umum karena popularitasnya. Namun, kini Anda tahu bahwa kekayaan arsitektur Sulawesi Selatan jauh lebih beragam dari sekadar satu nama.
Kesimpulan
Sulawesi Selatan adalah provinsi dengan warisan budaya yang luar biasa, salah satunya tecermin dari arsitektur rumah adatnya. Tongkonan, Balla, dan Saoraja adalah tiga pilar utama yang mewakili kearifan lokal suku Toraja, Makassar, dan Bugis. Masing-masing rumah bukan sekadar tempat berlindung, melainkan sebuah pusaka yang sarat akan nilai filosofis, sosial, dan spiritual.
Jadi, ketika Anda kembali dihadapkan pada pertanyaan rumah adat sulawesi selatan tts, Anda tidak hanya memiliki jawabannya, tetapi juga pemahaman mendalam tentang cerita di baliknya. Mengetahui keberagaman ini membuat kita semakin menghargai betapa kayanya budaya yang dimiliki Indonesia.
