Hubungan panca maha bhuta dan panca tan matra ?

Hubungan panca maha bhuta dan panca tan matra ?

Jawaban 1 :

Panca Maha Butha :

– Akasa ( unsur ruang hampa )

– Bayu ( unsur udara )

– Teja ( unsur panas )

– Apah ( unsur air/cair )

– Perthiwi ( unsur padat )

Panca Tan Mantra :

– Sabda Tan Mantra ( benih suara )

– Sparsa Tan Mantra ( benih rasa sentuhan )

– Rupa Tan Mantra ( benih penglihatan )

– Rasa Tan Mantra ( benih rasa )

– Gandha Tan Mantra ( benih penciuman )

kelima elemen ini merupakan penyusun utama makrokosmos atau semesta material atau bhuana agung dan mikrokosmos atau badan atau bhuana alit, Panca Mahabhuta sebagai penyusun alam semesta (Buana Agung) bersumber dari dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Cetana berkedudukan di atas, berwujud kesadaran tertinggi dan Acetana berkedudukan di bawah berwujud maya (lupa). Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. Pertemuan Purusa dan Pradana menghasilkan (menciptakan) citta-guna. Pertemuan setiap citta dan guna ini akan menghasilkan Panca Tan Matra dan Panca Maha Bhuta.

Dijawab Oleh :

Aryani, S.Pd

Jawaban 2 :

Panca Maha Butha :

– Akasa ( unsur ruang hampa )

– Bayu ( unsur udara )

– Teja ( unsur panas )

– Apah ( unsur air/cair )

– Perthiwi ( unsur padat )

Panca Tan Mantra :

– Sabda Tan Mantra ( benih suara )

– Sparsa Tan Mantra ( benih rasa sentuhan )

– Rupa Tan Mantra ( benih penglihatan )

– Rasa Tan Mantra ( benih rasa )

– Gandha Tan Mantra ( benih penciuman )

kelima elemen ini merupakan penyusun utama makrokosmos atau semesta material atau bhuana agung dan mikrokosmos atau badan atau bhuana alit, Panca Mahabhuta sebagai penyusun alam semesta (Buana Agung) bersumber dari dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Cetana berkedudukan di atas, berwujud kesadaran tertinggi dan Acetana berkedudukan di bawah berwujud maya (lupa). Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. Pertemuan Purusa dan Pradana menghasilkan (menciptakan) citta-guna. Pertemuan setiap citta dan guna ini akan menghasilkan Panca Tan Matra dan Panca Maha Bhuta.

Dijawab Oleh :

Arif Kuswandi, S.Pd.I

Penjelasan :

Memahami Konsep Dasar: Panca Maha Bhuta dan Panca Tan Matra

Sebelum melangkah lebih jauh untuk memahami keterkaitan keduanya, penting untuk mengerti definisi dari masing-masing konsep. Keduanya merupakan bagian dari 24 prinsip atau tattwa dalam filsafat Samkhya yang menjelaskan proses evolusi alam semesta (Prakriti).

Baca Juga:  Contoh personal branding tentang diri sendiri​ ?

Panca Maha Bhuta secara harfiah berarti “lima elemen agung” atau “lima elemen kasar”. Ini adalah unsur-unsur fundamental yang membentuk seluruh alam material yang bisa kita lihat, sentuh, dan rasakan. Sementara itu, Panca Tan Matra berarti “lima elemen halus” atau “lima potensi indera”. Ini adalah bentuk energi yang lebih murni dan subtil, yang menjadi benih atau penyebab dari terbentuknya elemen-elemen kasar.

Mendalami Masing-Masing Unsur

Untuk benar-benar menggenggam inti hubungan panca maha bhuta dan panca tan matra, kita perlu mengupas satu per satu unsur yang terkandung di dalamnya. Perbedaan mendasar terletak pada tingkat eksistensinya: satu bersifat kasar (gross) dan yang lain bersifat halus (subtle).

Panca Maha Bhuta: Lima Elemen Kasar Pembentuk Alam Semesta

Panca Maha Bhuta adalah fondasi dari dunia fisik. Setiap objek di alam semesta, termasuk tubuh manusia, merupakan kombinasi dari kelima elemen ini dalam proporsi yang berbeda-beda.

  • Prithvi (Elemen Tanah): Melambangkan soliditas, stabilitas, dan kepadatan. Semua yang berbentuk padat, dari bebatuan hingga tulang dalam tubuh kita, didominasi oleh unsur ini.
  • Apah (Elemen Air): Mewakili sifat cair, kohesi, dan aliran. Darah, getah, dan lautan adalah manifestasi nyata dari elemen Apah.
  • Teja (Elemen Api): Berkaitan dengan panas, cahaya, transformasi, dan metabolisme. Api pencernaan, cahaya matahari, dan energi adalah representasi dari Teja.
  • Vayu (Elemen Udara/Angin): Melambangkan gerakan, keringanan, dan napas. Angin yang berhembus dan udara yang kita hirup adalah perwujudan dari Vayu.
  • Akasa (Elemen Eter/Ruang): Merupakan elemen paling halus di antara Bhuta, melambangkan ruang, wadah, dan medium bagi suara untuk merambat.

Panca Tan Matra: Lima Benih Halus Persepsi Indera

Panca Tan Matra adalah prekursor atau “ibu” dari Panca Maha Bhuta. Mereka adalah potensi murni dari pengalaman sensorik, esensi yang belum termanifestasi menjadi objek fisik.

  • Gandha Tan Matra (Potensi Bau): Esensi murni dari aroma. Ini adalah sumber dari segala jenis bau yang kemudian dapat dicium.
  • Rasa Tan Matra (Potensi Rasa): Esensi murni dari pengecapan. Ini adalah potensi yang melahirkan rasa manis, asam, asin, dan lainnya.
  • Rupa Tan Matra (Potensi Bentuk/Penglihatan): Esensi murni dari bentuk dan warna. Ini adalah potensi yang memungkinkan sesuatu untuk dilihat.
  • Sparsa Tan Matra (Potensi Sentuhan): Esensi murni dari sensasi sentuhan. Potensi yang memunculkan rasa panas, dingin, halus, atau kasar.
  • Sabda Tan Matra (Potensi Suara): Esensi murni dari suara. Ini adalah getaran primordial yang menjadi dasar bagi semua bunyi.
Baca Juga:  Jelaskan perubahan sosial yang terjadi akibat perkembangan teknologi komunikasi​ ?

Beda Mendasar Antara Unsur Kasar dan Halus

Perbedaan utamanya terletak pada tingkat manifestasi. Panca Tan Matra adalah energi murni yang bersifat potensial dan belum dapat dipersepsikan secara langsung oleh indera biasa. Di sisi lain, Panca Maha Bhuta adalah hasil konkret dari manifestasi Tan Matra, yang bersifat fisik dan dapat dialami melalui panca indera kita.

Hubungan Panca Maha Bhuta dan Panca Tan Matra: Dari Halus ke Kasar

Inilah inti dari pembahasan kita. Hubungan panca maha bhuta dan panca tan matra adalah hubungan sebab-akibat yang bersifat hierarkis dan evolusioner. Proses ini menjelaskan bagaimana alam semesta yang halus dan tak berbentuk secara bertahap memadat menjadi dunia material yang kita kenal.

Proses evolusi ini berjalan dari yang paling halus menuju yang paling kasar. Setiap elemen kasar (Maha Bhuta) lahir dari kombinasi elemen halus (Tan Matra) sebelumnya.

Proses Evolusi Kosmik (Tattwa)

Dalam filsafat Samkhya, segala sesuatu bermula dari Prakriti (materi primordial). Dari sini muncul Mahat (kecerdasan kosmik), lalu Ahamkara (ego atau prinsip ke-aku-an). Ahamkara kemudian bercabang menjadi tiga, salah satunya adalah cabang tamasic yang melahirkan Panca Tan Matra.

Dari Panca Tan Matra inilah kemudian Panca Maha Bhuta terbentuk dalam sebuah proses yang berurutan dan saling membangun. Ini adalah kunci untuk memahami hubungan panca maha bhuta dan panca tan matra secara fundamental.

Tan Matra sebagai Penyebab, Maha Bhuta sebagai Akibat

Hubungan ini paling baik dijelaskan sebagai proses manifestasi berantai. Elemen yang lebih halus menjadi penyebab bagi elemen yang lebih kasar.

Dari Sabda ke Akasa

Proses dimulai dari yang paling subtil. Sabda Tan Matra (potensi suara) adalah yang pertama kali muncul. Dari potensi suara ini, termanifestasilah Akasa (ruang/eter), karena suara membutuhkan ruang untuk ada dan merambat. Akasa hanya memiliki satu atribut, yaitu suara.

Baca Juga:  Seni teater tradisional yang berasal dari Pulau Bintan adalah ?

Proses Berantai yang Saling Melahirkan

Setelah Akasa terbentuk, proses berlanjut secara kumulatif. Setiap Maha Bhuta yang baru membawa serta atribut dari Tan Matra yang mendahuluinya.

  1. Akasa (dari Sabda Tan Matra) kemudian bergabung dengan Sparsa Tan Matra (potensi sentuhan). Kombinasi ini melahirkan elemen Vayu (udara). Oleh karena itu, udara memiliki dua atribut: suara (dari Akasa) dan sentuhan.
  2. Vayu (dengan atribut suara dan sentuhan) selanjutnya bergabung dengan Rupa Tan Matra (potensi bentuk). Kombinasi ini melahirkan elemen Teja (api). Api memiliki tiga atribut: suara, sentuhan, dan bentuk (cahaya).
  3. Teja (dengan atribut suara, sentuhan, bentuk) lalu bergabung dengan Rasa Tan Matra (potensi rasa). Dari sini, lahirlah elemen Apah (air). Air memiliki empat atribut: suara, sentuhan, bentuk, dan rasa.
  4. Terakhir, Apah (dengan empat atribut sebelumnya) bergabung dengan Gandha Tan Matra (potensi bau). Kombinasi ini melahirkan elemen yang paling padat, yaitu Prithvi (tanah). Tanah, sebagai elemen paling kasar, memiliki kelima atribut: suara, sentuhan, bentuk, rasa, dan bau.

Implikasi Hubungan Ini dalam Kehidupan Manusia

Memahami hubungan panca maha bhuta dan panca tan matra memberikan kita perspektif yang mendalam tentang diri kita dan interaksi kita dengan dunia. Panca Indera (mata, telinga, hidung, lidah, kulit) kita berfungsi sebagai jembatan.

Indera kita menangkap objek-objek dunia luar yang terbentuk dari Panca Maha Bhuta. Namun, yang sebenarnya kita alami adalah kualitas halusnya, yaitu Panca Tan Matra. Kita tidak merasakan “tanah” secara abstrak, tetapi kita mencium baunya (Gandha), merasakan teksturnya (Sparsa), dan melihat bentuknya (Rupa). Dengan demikian, seluruh pengalaman sensorik kita adalah interaksi langsung antara dunia kasar dan esensi halusnya.

Kesimpulan

Hubungan panca maha bhuta dan panca tan matra bukanlah sekadar teori kosmologi kuno, melainkan sebuah peta yang menggambarkan aliran manifestasi dari yang tak terlihat menuju yang terlihat. Hubungan ini adalah hubungan sebab-akibat yang tak terpisahkan, di mana Panca Tan Matra adalah benih halus dan Panca Maha Bhuta adalah buah kasarnya.

Dari getaran suara murni yang melahirkan ruang, hingga kombinasi kompleks yang membentuk bumi solid tempat kita berpijak, setiap langkah dalam proses ini menunjukkan keteraturan dan kecerdasan kosmik. Dengan memahaminya, kita menjadi lebih sadar bahwa dunia yang kita persepsikan melalui indera kita memiliki akar yang jauh lebih dalam dan subtil, menghubungkan esensi batin kita dengan struktur fundamental alam semesta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top