Berikut ini yang BUKAN merupakan alternatif dalam merumuskan tujuan pembelajaran adalah ?
Jawaban 1 :
Merumuskan tujuan pembelajaran lintas elemen CP.
Dijawab Oleh :
Dra. Nilawati, M.Pd
Jawaban 2 :
Merumuskan tujuan pembelajaran lintas elemen CP.
Dijawab Oleh :
Arif Kuswandi, S.Pd.I
Penjelasan :
Memahami Kriteria Tujuan Pembelajaran yang Efektif
Sebelum membahas apa yang harus dihindari, kita perlu memahami terlebih dahulu seperti apa tujuan pembelajaran yang baik. Tujuan yang ideal harus berpusat pada siswa (student-centered), spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu yang jelas. Kerangka kerja populer seperti SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) dan ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree) sering digunakan sebagai panduan.
Intinya, tujuan pembelajaran harus mendeskripsikan apa yang dapat dilakukan oleh siswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran, bukan apa yang akan dilakukan oleh guru. Fokusnya adalah pada perubahan perilaku, pengetahuan, atau keterampilan yang dapat diamati dan diukur pada diri peserta didik.
Kesalahan Fatal: Berikut Ini yang Perlu Dihindari dalam Merumuskan Tujuan Pembelajaran Adalah
Setelah memahami kriteria ideal, kini saatnya kita fokus pada inti permasalahan. Banyak pendidik tanpa sadar jatuh ke dalam perangkap perumusan yang keliru. Jadi, berikut ini yang perlu dihindari dalam merumuskan tujuan pembelajaran adalah beberapa praktik umum yang justru melemahkan esensi dari tujuan itu sendiri.
Menggunakan Kata Kerja yang Ambigu dan Tidak Terukur
Ini adalah kesalahan paling fundamental. Kata kerja seperti “memahami”, “mengetahui”, “mengerti”, atau “menghayati” sangat sulit untuk diukur secara objektif. Bagaimana Anda tahu seorang siswa sudah benar-benar “memahami”? Bukti apa yang bisa ditunjukkan?
- Contoh Buruk: Siswa dapat memahami proses fotosintesis.
- Contoh Baik: Siswa dapat menjelaskan kembali tiga tahapan utama dalam proses fotosintesis dengan benar.
Kata kerja operasional yang terukur, seperti yang terdapat dalam Taksonomi Bloom (menyebutkan, menjelaskan, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, menciptakan), adalah kunci untuk tujuan yang efektif.
Fokus pada Aktivitas Guru, Bukan Kompetensi Siswa
Tujuan pembelajaran bukanlah daftar kegiatan yang akan dilakukan oleh guru. Tujuan tersebut harus menggambarkan hasil belajar yang diharapkan dari siswa.
- Contoh Buruk: Guru akan menjelaskan tentang sejarah Kerajaan Majapahit. (Fokus pada aktivitas guru)
- Contoh Baik: Siswa mampu mengidentifikasi minimal tiga faktor penyebab runtuhnya Kerajaan Majapahit. (Fokus pada kompetensi siswa)
Ingat, tujuan pembelajaran adalah tentang pencapaian siswa, bukan tentang “penyampaian materi” oleh guru.
Menetapkan Target yang Terlalu Luas atau Ganda
Tujuan yang baik harus spesifik dan fokus pada satu kompetensi. Jika satu tujuan mengandung terlalu banyak target atau perilaku, akan sulit untuk mengukur pencapaiannya secara akurat.
- Contoh Buruk: Siswa dapat menyebutkan ibu kota negara ASEAN dan menjelaskan sistem pemerintahannya. (Dua target berbeda: menyebutkan dan menjelaskan)
- Contoh Baik (dipecah menjadi dua):
- Siswa dapat menyebutkan ibu kota dari 10 negara anggota ASEAN.
- Siswa dapat membandingkan sistem pemerintahan antara Indonesia dan Malaysia.
Hal yang BUKAN Merupakan Alternatif dalam Merumuskan Tujuan
Berdasarkan kesalahan-kesalahan di atas, kita dapat menyimpulkan apa saja yang sama sekali bukan merupakan alternatif yang valid dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Praktik-praktik ini harus sepenuhnya ditinggalkan.
Pernyataan yang Berpusat pada Topik atau Materi Ajar
Sebuah pernyataan yang hanya menyebutkan topik materi bukanlah tujuan pembelajaran. Ini hanyalah deskripsi konten.
- Bukan Tujuan: “Membahas Bab 4: Ekosistem”.
- Tujuan Sebenarnya: “Setelah mempelajari Bab 4, siswa dapat membuat bagan rantai makanan yang terjadi di ekosistem sawah.”
Tujuan harus menjawab pertanyaan, “Setelah membahas topik ini, siswa bisa apa?”.
Tujuan yang Tidak Dapat Dinilai atau Dievaluasi
Jika sebuah tujuan tidak dapat diukur, maka tujuan tersebut tidak memiliki nilai praktis dalam proses pembelajaran. Keselarasan antara tujuan, aktivitas belajar, dan penilaian adalah mutlak. Praktik ini menjadi salah satu dari berikut ini yang perlu dihindari dalam merumuskan tujuan pembelajaran adalah karena menciptakan siklus pembelajaran yang tidak valid.
Keterkaitan Erat Antara Tujuan dan Penilaian
Kata kerja operasional yang Anda pilih dalam tujuan akan secara langsung menentukan bagaimana Anda akan menilainya. Jika tujuannya adalah “menyebutkan”, maka tes pilihan ganda atau isian singkat sudah cukup. Namun, jika tujuannya “menganalisis”, maka penilaiannya harus berupa esai atau studi kasus.
Contoh Ketidakselarasan Fatal
- Tujuan: Siswa mampu menganalisis dampak sosial revolusi industri.
- Penilaian: Sebutkan tiga penemuan penting selama revolusi industri.
Penilaian di atas hanya menguji kemampuan mengingat (C1), sementara tujuannya berada pada level analisis (C4). Ini menunjukkan ketidakselarasan yang menjadikan proses evaluasi tidak valid.
Panduan Praktis dengan Kerangka ABCD
Untuk menghindari semua kesalahan tersebut, gunakanlah kerangka kerja yang jelas seperti ABCD:
- A – Audience (Audiens): Siapa yang menjadi subjek pembelajaran? Jawabannya hampir selalu “Siswa” atau “Peserta didik”.
- B – Behavior (Perilaku): Apa perilaku spesifik yang dapat diamati dan diukur yang diharapkan? Gunakan kata kerja operasional (KKO) yang jelas. Ini adalah inti dari tujuan.
- C – Condition (Kondisi): Dalam kondisi atau situasi apa perilaku tersebut akan ditampilkan? Misalnya, “dengan menggunakan peta”, “tanpa melihat buku”, “setelah menonton video”.
- D – Degree (Tingkat Keberhasilan): Seberapa baik perilaku tersebut harus ditampilkan? Ini adalah kriteria keberhasilan. Misalnya, “dengan akurasi 80%”, “minimal tiga contoh”, “tanpa kesalahan”.
Contoh Penerapan ABCD:
(A) Siswa kelas 10 mampu (B) mengidentifikasi lima jenis majas (C) dalam sebuah puisi yang diberikan (D) dengan benar.
Kesimpulan
Merumuskan tujuan pembelajaran adalah sebuah keterampilan fundamental bagi setiap pendidik. Tujuan yang dirumuskan dengan baik berfungsi sebagai peta jalan yang jelas, memandu setiap langkah dalam proses pengajaran, dan menjadi dasar untuk penilaian yang adil dan akurat. Sebaliknya, tujuan yang ambigu dan tidak terukur akan menciptakan kebingungan dan proses belajar yang tidak efektif.
Pada akhirnya, untuk menjawab pertanyaan “Berikut ini yang BUKAN merupakan alternatif dalam merumuskan tujuan pembelajaran adalah ?”, jawabannya adalah: setiap pernyataan yang berpusat pada guru, berfokus pada topik materi semata, menggunakan kata kerja yang tidak terukur, dan tidak dapat dievaluasi. Dengan kata lain, berikut ini yang perlu dihindari dalam merumuskan tujuan pembelajaran adalah ambiguitas, fokus pada aktivitas guru, dan ketidakselarasan dengan penilaian. Dengan memegang teguh prinsip kejelasan, keterukuran, dan fokus pada kompetensi siswa, setiap pendidik dapat merancang fondasi yang kokoh untuk keberhasilan belajar peserta didiknya.
