Perebutan kekuasaan dengan paksa disebut ?

Perebutan kekuasaan dengan paksa disebut ?

Jawaban 1 :

kudeta.

Dijawab Oleh :

Arif Kuswandi, S.Pd.I

Jawaban 2 :

kudeta.

Dijawab Oleh :

Dr. Yohanes Nong Loar, M.Pd

Penjelasan :

Mengungkap Jawaban Teka-Teki Silang: Perebutan Kekuasaan dengan Paksa

Bagi Anda yang sedang memegang pena dan surat kabar atau membuka aplikasi TTS di ponsel, jawaban yang tepat untuk petunjuk perebutan kekuasaan dengan paksa tts adalah KUDETA. Kata ini, yang terdiri dari enam huruf, secara presisi mendefinisikan tindakan mengambil alih pemerintahan secara ilegal dan mendadak.

Istilah kudeta sangat familiar dalam pemberitaan internasional dan buku-buku sejarah. Ini merujuk pada sebuah aksi yang terorganisir, sering kali melibatkan faksi militer atau kelompok elit politik, yang bertujuan untuk menggulingkan pemimpin atau rezim yang sedang berkuasa. Dengan demikian, “kudeta” adalah jawaban paling akurat untuk mengisi kolom-kolom kosong pada teka-teki silang Anda.

Apa Sebenarnya Kudeta Itu? Definisi dan Konsep Dasarnya

Memahami jawaban TTS adalah satu hal, tetapi mendalami makna di baliknya akan memberikan pengetahuan yang jauh lebih berharga. Memahami konsep di balik pertanyaan perebutan kekuasaan dengan paksa tts menjadi penting untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa dunia secara akurat.

Definisi Formal Kudeta

Secara akademis, kudeta adalah upaya penggulingan atau pengambilalihan kekuasaan eksekutif suatu negara yang dilakukan secara inkonstitusional (di luar hukum) oleh sekelompok kecil orang yang sebelumnya memiliki posisi di dalam aparat negara itu sendiri, seperti perwira militer atau pejabat tinggi pemerintahan.

Kunci utama yang membedakan kudeta dari gerakan lain adalah pelakunya. Kudeta dilakukan oleh “orang dalam” yang memanfaatkan posisi, sumber daya, dan otoritas yang mereka miliki untuk merebut kontrol pemerintahan. Hal ini sangat berbeda dengan revolusi, yang melibatkan mobilisasi massa rakyat secara luas untuk mengubah sistem sosial dan politik secara fundamental.

Baca Juga:  Berikut merupakan prinsip evaluasi kecuali ?

Etimologi: Dari “Coup d’État” hingga “Kudeta”

Istilah “kudeta” merupakan serapan dari bahasa Prancis, yaitu coup d’État. Secara harfiah, frasa ini berarti “pukulan terhadap negara” (blow against the state). Penggunaan istilah ini pertama kali populer pada abad ke-17 di Prancis untuk menggambarkan tindakan kekerasan yang tiba-tiba dalam politik.

Bahasa Indonesia menyerap frasa ini dan menyesuaikannya menjadi kata “kudeta” yang lebih mudah diucapkan dan ditulis. Meskipun ejaannya berubah, maknanya tetap sama: sebuah serangan cepat dan tegas yang ditujukan langsung pada jantung kekuasaan negara.

Ciri-Ciri Utama Sebuah Kudeta

Untuk lebih mudah mengidentifikasi sebuah peristiwa sebagai kudeta, ada beberapa karakteristik utama yang dapat dikenali. Sebuah tindakan perebutan kekuasaan dengan paksa umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Kecepatan dan Kerahasiaan: Kudeta direncanakan secara rahasia dan dieksekusi dengan sangat cepat untuk menciptakan elemen kejutan dan mencegah pemerintah yang sah sempat melakukan perlawanan efektif.
  • Pelaku adalah Elit Internal: Pelaku kudeta bukanlah rakyat jelata, melainkan faksi dari militer, badan intelijen, atau bahkan anggota kabinet yang memiliki akses terhadap kekuatan dan informasi.
  • Target Terbatas: Fokus utama kudeta adalah merebut kendali atas lembaga-lembaga eksekutif pusat. Targetnya adalah istana kepresidenan, stasiun televisi dan radio nasional, markas besar militer, dan infrastruktur komunikasi untuk melumpuhkan pemimpin yang berkuasa.
  • Inkonstitusional: Aksi kudeta secara definisi melanggar konstitusi atau hukum yang berlaku mengenai suksesi kepemimpinan. Ini adalah jalur non-demokratis untuk meraih kekuasaan.
  • Ancaman atau Penggunaan Kekerasan: Meskipun tidak semua kudeta berdarah-darah, potensi penggunaan kekuatan militer atau kekerasan selalu menjadi elemen sentral untuk memaksa penguasa menyerahkan kekuasaannya.

Membedah Jenis-jenis Kudeta di Panggung Sejarah

Sejarah dunia mencatat berbagai macam bentuk perebutan kekuasaan. Para ilmuwan politik telah mengklasifikasikan kudeta ke dalam beberapa jenis berdasarkan pelaku dan tujuannya. Mengetahui jenis-jenis ini membantu kita memahami motivasi di balik setiap upaya perebutan kekuasaan yang terjadi.

Baca Juga:  Apa tanggung jawab seorang ahli informatika ?

Kudeta Istana (Palace Coup)

Ini adalah jenis kudeta yang terjadi di dalam lingkaran terdalam kekuasaan. Dalam kudeta istana, seorang penguasa (raja, sultan, atau presiden) digulingkan oleh kerabatnya sendiri, penasihat terdekat, atau anggota elit penguasa lainnya. Tujuannya bukan untuk mengubah sistem pemerintahan, melainkan hanya untuk mengganti figur pemimpin puncak.

Contoh klasiknya adalah intrik-intrik yang sering terjadi di kerajaan-kerajaan kuno, di mana seorang pangeran menggulingkan ayahnya atau seorang perdana menteri merebut takhta dari rajanya.

Kudeta Militer (Military Coup)

Ini adalah jenis kudeta yang paling umum dan paling sering diberitakan. Sesuai namanya, kudeta militer dipimpin dan dilaksanakan oleh angkatan bersenjata suatu negara. Militer, dengan monopoli atas alat kekerasan dan struktur komando yang terorganisir, berada dalam posisi ideal untuk melakukan pengambilalihan kekuasaan secara paksa. Kudeta militer sendiri dapat dibagi lagi menjadi beberapa sub-jenis.

Kudeta Penjaga (Guardian Coup)

Dalam skenario ini, militer turun tangan dengan dalih untuk “menyelamatkan bangsa” dari pemerintahan sipil yang dianggap korup, tidak kompeten, atau tidak mampu menjaga stabilitas nasional. Para pemimpin kudeta sering kali menampilkan diri mereka sebagai penjaga atau pelindung negara dan berjanji akan mengembalikan kekuasaan kepada sipil setelah kondisi “normal” kembali. Kudeta militer di Thailand dan Myanmar sering kali menggunakan justifikasi semacam ini.

Kudeta Veto (Veto Coup)

Kudeta veto terjadi ketika militer melakukan intervensi untuk mencegah kelompok politik tertentu—yang biasanya sangat populer di kalangan rakyat—untuk naik ke tampuk kekuasaan melalui proses pemilu. Militer menggunakan hak “veto” bersenjata mereka karena menganggap kelompok tersebut sebagai ancaman bagi kepentingan mereka atau stabilitas negara. Kudeta di Chile pada tahun 1973 yang menggulingkan Salvador Allende adalah contoh paling terkenal dari jenis ini.

Baca Juga:  Orang yang selalu memiliki harapan baik adalah ?

Kudeta Mandiri (Self-Coup / Autogolpe)

Jenis ini terbilang unik karena pelakunya adalah pemimpin yang sedang berkuasa. Dalam kudeta mandiri (dikenal juga dengan istilah Spanyol, autogolpe), seorang kepala negara atau kepala pemerintahan yang terpilih secara sah menggunakan kekuatan aparat negara untuk membubarkan lembaga legislatif atau yudikatif, menangguhkan konstitusi, dan mengambil alih kekuasaan absolut.

Tujuannya adalah untuk menghilangkan semua penyeimbang kekuasaan (checks and balances) dan memerintah secara diktator. Contoh terkenal adalah tindakan Presiden Peru, Alberto Fujimori, pada tahun 1992 yang membubarkan Kongres dengan dukungan militer.

Dampak dan Konsekuensi dari Perebutan Kekuasaan Paksa

Kudeta bukanlah peristiwa tanpa akibat. Tindakan ini sering kali meninggalkan luka mendalam bagi sebuah negara dan warganya. Dampaknya bisa terasa di berbagai sektor, mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial.

  • Instabilitas Politik: Kudeta menciptakan preseden berbahaya bahwa kekuasaan dapat diraih melalui todongan senjata, bukan kotak suara. Ini memicu siklus instabilitas, di mana setiap kelompok yang memiliki kekuatan militer merasa berhak untuk mencoba merebut kekuasaan.
  • Pelanggaran Hak Asasi Manusia: Rezim yang lahir dari kudeta sering kali bersifat represif. Untuk mengkonsolidasikan kekuasaan, mereka kerap menekan oposisi, membungkam media, melakukan penangkapan sewenang-wenang, dan melakukan pelanggaran HAM berat lainnya.
  • Kemunduran Ekonomi: Ketidakpastian politik akibat kudeta membuat investor domestik dan asing ragu untuk menanamkan modal. Sering kali, negara yang mengalami kudeta juga akan dijatuhi sanksi ekonomi oleh komunitas internasional, yang semakin memperburuk kondisi perekonomian.
  • Isolasi Internasional: Negara yang pemerintahannya digulingkan secara paksa akan dikucilkan dari pergaulan internasional. Keanggotaan di organisasi-organisasi regional dan global bisa ditangguhkan, dan hubungan diplomatik dengan negara-negara demokrasi lainnya akan memburuk.

Kesimpulan

Pada akhirnya, perebutan kekuasaan dengan paksa disebut KUDETA. Istilah ini merangkum sebuah tindakan dramatis dan sering kali destruktif dalam panggung politik sebuah negara. Ini adalah jalan pintas inkonstitusional yang diambil oleh segelintir elit untuk merebut kendali pemerintahan, sering kali dengan mengorbankan demokrasi, stabilitas, dan hak asasi manusia.

Jadi, ketika Anda kembali mengisi TTS dan menemukan petunjuk perebutan kekuasaan dengan paksa tts, Anda tidak hanya tahu jawabannya, tetapi juga memahami kompleksitas makna di baliknya. Jawaban “Kudeta” lebih dari sekadar kata; ia adalah pengingat tentang betapa rapuhnya tatanan demokrasi dan betapa pentingnya menjaga proses transisi kekuasaan yang damai dan konstitusional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top